Cerita Seorang Putra

- Penulis

Minggu, 22 Oktober 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suaranews.id, Tamsil benar-benar kalut setelah mendapatkan telepon dari Jamal, wali kelas putranya. Jamal mengabarkan kalau putranya telah melakukan pelanggaran berat di lingkungan sekolah. Tetapi Jamal belum mau memberitahunya perihal pokok perkara tersebut.

Sang wali kelas hanya meminta agar ia segera datang ke sekolah untuk mendapatkan pengarahan langsung perihal penanganan perilaku putranya yang duduk di kelas II SMA itu.

Akhirnya, sepanjang perjalanan menuju ke sekolah, pikiran Tamsil disesaki dugaan miring perihal apa yang telah dilakukan putranya. Ia jelas hanya bisa menerka-nerka, sebab sang wali kelas tak memberinya bocoran sedikit pun.

Namun ia tetap berkeyakinan kalau pelanggaran putranya cuma kenakalan remeh yang jauh dari kategori tindakan kriminal. Ia tahu betul kalau putranya tidak akan melakukan tindakan brutal yang merugikan orang lain.

Keyakinan Tamsil memang berdasar. Putranya bukanlah sosok anak lelaki yang gagah. Secara kasatmata, siapa pun bisa menerka kalau putranya memiliki sifat keperempuanan yang lebih dominan daripada sifat kelakiannya. Paling tidak, itu terlihat pada gerak-geriknya yang kemayu dan melambai.

Karena itu, Tamsil tak bisa mengelakkan vonis orang-orang bahwa putranya adalah seorang banci yang tidak punya ketertarikan seksual kepada lawan jenisnya.

Atas kenyataan itu, Tamsil meragukan kalau putranya telah melakukan tindakan kenakalan sebagimana kenakalan yang biasa dilakukan anak-anak lelaki. Ia tak pernah membayangkan kalau putranya akan terlibat dalam aksi perkelahian, tawuran, atau pengeroyokan.

Ia bahkan tak pernah membayangkan kalau putranya akan mengisap rokok, menenggak minuman keras, atau melakukan perusakan barang untuk melampiaskan amarahnya.

Akhirnya, pikiran Tamsil menyasar pada aksi kenakalan yang bisa saja dilakukan anak-anak perempuan di lingkungan sekolah. Ia pun menaksir kalau barangkali putranya sekadar melakukan pelanggaran terhadap norma kesopanan dan kepatutan.

Barangkali putranya mengenakan aksesoris pakaian yang tidak sesuai dengan kodratnya. Barangkali juga, putranya telah mencaci guru atau teman-temannya yang telah meledeknya dan memanggilnya banci.

Bagi Tamsil, tindakan semacam itu, tentu bukan pelanggaran yang fatal. Setidaknya, itu tidak membahayakan dan tidak merugikan orang lain secara fisik dan materi.

Karena itu, menurutnya, perkara demikian seharusnya diselesaikan dengan mudah oleh para guru, dan ia tak semestinya menghadap ke sekolah.

Meski begitu, bagi Tamsil, akan lebih memalukan kalau putranya membuat masalah akibat sisi keperempuanannya ketimbang melakukan pelanggaran yang biasa dilakukan remaja laki-laki. Ia tentu tidak ingin putranya menjadi seorang lelaki badung yang suka membuat keonaran.

Tetapi kalau bisa memilih, ia lebih tidak menginginkan kalau putranya menjadi seorang lelaki gemulai yang penakut dan tak berani membela kehormatannya secara jantan.

Sungguh, sebagai pensiunan tentara, Tamsil jelas ingin putranya tampil gagah seperti dirinya. Ia bahkan berharap putranya mengikuti langkahnya menjadi prajurit.

Tetapi kenyataan bahwa putranya berperilaku layaknya seorang putri, harus ia terima. Ia bahkan tak bisa apa-apa lagi selain terus berdoa agar putranya menjadi lelaki yang tulen. Ia merasa kalau didikan dan hardikan keras seperti yang ia lakukan dahulu, malah akan membuat sang putra memberontak.

Atas keadaan itu, Tamsil tak menyalahkan siapa-siapa selain dirinya. Itu karena dahulu, demi tugas di tempat yang jauh, ia jarang hadir di sisi putranya sebagai sosok ayah yang memberikan teladan perihal menjadi lelaki yang sejati.

Baca Juga :  5 Cara Mempersiapkan Biaya Pernikahan

Ia hanya memasrahkan tumbuh kembang putranya pada didikan istrinya yang ternyata begitu memanjakannya. Dan akhirnya, karena keakrabannya pada sifat keperempuanan, jadilah sang putra sosok yang lebek dan gemulai.

Kalau saja waktu bisa diputar kembali, Tamsil merasa akan lebih memilih untuk menjadi seorang ayah yang baik ketimbang menjadi seorang prajurit yang baik.

Seandainya ia bisa kembali ke masa lalu, ia akan rela mengorbankan karirnya untuk senantiasa berada di samping putranya. Ia akan menomorduakan soal pengabdian dan kenaikan pangkat demi putranya. Namun keinginan itu jelas sudah mustahil, dan ia mesti menerima kenyataan yang ada.

Terlebih lagi, ketidakfokusan Tamsil memerhatikan tumbuh kembang putranya itu, diperparah oleh keadaannya yang berkeluarga ganda.

Putranya tersebut merupakan anak semata wayangnya dari istri keduanya yang ia nikahi secara siri, sedang ia juga memiliki dua putri dari istri pertamanya yang ia nikahi secara resmi dan ia ceraikan di kemudian waktu. Barangkali, karena kondisi itulah, sang putra membencinya sebagai ayah, hingga membenci sifat kelaki-lakian.

Atas sengkarut persoalan tersebut, Tamsil akhirnya sadar untuk tidak terus-menerus merendahkan putranya sendiri. Ia merasa kalau kegagalannya menjadi sosok ayah yang seutuhnya, adalah faktor dominan yang memengaruhi perangai sang putra.

Kerena itu, ia berharap didikan sekolah dan lingkungan masyarakat, akan mampu membuat sang putra menginsafi jati dirinya dan perlahan membentuknya menjadi lelaki yang sejati.

Sebab itu pula, setelah putranya tamat SMP, dua tahun yang lalu, di ruang keluarga rumahnya, terjadi perdebatan yang sengit perihal ke mana sang putra akan melanjutkan pendidikannya:

“Pokoknya, aku ingin sekolah di SMK!” tegas sang putra sambil menangis, dengan suara keras yang terdengar tanggung, setelah sekian lama mereka berdebat mencari kesepakatan.

Dengan¬†amarah yang memuncak, Tamsil kemudian memukul meja keras-keras. “Itu tidak akan terjadi! Kau harus sekolah di SMA 2! Kalau kau tidak mau, kau lebih baik tidak sekolah dan menjadi gelandangan!” titahnya, menggertak.

Ia benar-benar kehilangan kesabaran setelah sang putra ngotot melanjutkan pendidikan di sebuah SMK dan mengambil jurusan perhotelan.

Karena itu pula, ia balas ngotot memilih sebuah SMA yang terkenal banyak dihuni anak laki-laki yang cukup badung. Ia berharap, lingkungan sekolah akan membuat sang putra menyesuaikan diri dengan kodratnya.

Secara mengejutkan, istrinya yang sering kali membela kemauan sang putra, akhirnya membela keputusannya, “Sudahlah, Nak. Ikutilah kemauan Ayahmu kali ini. Aku pun yakin kalau itu pasti baik untukmu,” kata sang istri, sembari berurai air mata.

Atas dukungan istrinya itu, putranya pun luluh dan bersedia untuk bersekolah di SMA tersebut.

Dengan kesepakatan itu, Tamsil berharap kalau pergaulan di sekolah, benar-benar akan berhasil mengubah watak dan sikap putranya.

Sebagai tindak lanjut, ia pun menekankan kepada sang putra untuk bergabung dalam ekstrakurikuler pramuka dan paskibraka, sembari mengancam akan memindahkannya ke sekolah yang dihuni lebih banyak anak bengal kalau menolak. Beruntung, sang putra patuh tanpa perdebatan panjang.

Baca Juga :  RSD Balung berpartisipasi aktif dalam Jember Fashion Carnaval 2023

Tetapi akhirnya, kini, yang terjadi, putranya malah melakukan pelanggaran di sekolah, sampai ia pun mesti menghadap ke pihak guru.

Ia berharap saja semoga pelanggaran putranya bukanlah jenis pelanggaran yang bisa menghancurkan harkat dan martabatnya sebagai seorang ayah. Karena itu, ia tak ingin menggelapkan pikirannya sendiri dengan memastikan kebenaran prasangka-prasangkanya yang tak berdasar.

Setelah sekian lama melintasi jalanan dengan kecepatan sedang menggunakan mobil pribadinya, Tamsil akhirnya sampai di sekolah putranya.

Dengan kekalutan dan rasa penasaran, ia lalu melangkah cepat menuju ruang kepala sekolah yang merupakan lokasi yang telah ia perjanjikan dengan sang wali kelas untuk menjadi tempat pembicaraan perihal pelanggaran putranya.

Sesaat berselang, Tamsil pun sampai di ruangan tersebut dengan perasaan waswas. Ia lantas duduk di depan kepala sekolah, di samping sang wali kelas. Setelah basa-basi yang singkat, ia lekas bertanya, “Sebenarnya, pelanggaran apa yang telah dilakukan putraku?”

Jamal, sang wali kelas, lantas meletakkan sebuah ponsel di atas meja, kemudian menerangkan, “Tadi, kami mengadakan razia mendadak di kelas. Kami menyita ponsel para siswa dan siswi. Lalu, di dalam ponsel milik putra Bapak ini, kami menemukan banyak konten-konten asusila.”

Seketika, adegan-adegan kotor menyesaki kepala Tamsil, perihal hubungan seksual yang menyimpang. “Konten seperti apa yang Bapak maksud?” selisiknya, dengan jantung yang berdebar kencang.

“Video porn**, Pak,” ungkap Jamal.

Tamsil makin cemas dan khawatir. Ia lantas bertanya canggung, “Bagaimana adegan se*sual di dalam video-video itu?”

Jamal dan sang kepala sekolah saling memandangi, seperti tak mengerti arah pertanyaan tersebut.

Tamsil lalu memperjelas, “Maksudku, apakah adegan-adegan intim itu adalah adegan antara sesama jenis atau berlawanan jenis?”

“Dari yang kami lihat, semua adegan diperankan antarlawan jenis,” jawab Jamal.

Seketika, Tamsil semringah. Ia lalu tertawa-tawa pendek, kemudian berujar, “Ah, beruntunglah kalau begitu.”

Jamal dan sang kepala sekolah jadi bingung dan heran.

“Kok Bapak malah senang?” tanya sang kepala sekolah.

“Karena itu berarti orientasi seksual putraku masih normal. Ia masih suka pada perempuan,” tutur Tamsil, tampak begitu senang.

Jamal dan sang kepala sekolah membalas dengan raut kecut, seolah kecewa melihat tanggapan Tamsil.

“Lalu, masalahnya di mana? Toh, putraku tidak merugikan orang lain,” ujar Tamsil, sembari mengendalikan kegembiraannya.

“Masalahnya adalah, putra Bapak menyebarkan konten-konten itu kepada teman-temannya dengan harga tertentu,” terang sang kepala sekolah.

Seketika, kegirangan Tamsil mereda. Ia jelas memahami kalau perbuatan putranya itu adalah pelanggaran yang berat.

“Kalau begitu, aku minta maaf, Pak. Aku berjanji akan mendidik putraku supaya menggunakan teknologi untuk hal-hal yang positif dan tidak melanggar norma.”

Sang kepala sekolah pun mengangguk-angguk, lantas memberikan peringatan dan saran-saran kepada Tamsil atas perilaku putranya.

Dengan perasaan yang tenang, Tamsil menyanggupinya.***

 

Ramli Lahaping. Kelahiran Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Menulis di blog pribadi (sarubanglahaping.blogspot.com). Bisa dihubungi melalui Twitter (@ramli_eksepsi) atau Facebook (Ramli Lahaping).

Penulis : Ramli Lahaping

Editor : cing

Berita Terkait

Daftar Game Slot Gampang Maxwin Hari Ini
Slot Mahjong Ways Terbaru 2024 Modal 50K Maxwin Hingga 100JT
Prabowo – Gibran Datang di Posisi Debat
7 Tips Perawatan Wajah Secara Alami Agar Kulit Sehat dan Segar
Proses Jual Beli Rumah Secara Tunai
Beginilah Cara Over Kredit Rumah Yang Aman
Bersiap Hadapi Pemilu 2024: PANWASLUCAM Gumukmas Akan Rekrut 270 Pengawas TPS
BENDA-BENDA YANG HARUS DIBAWA SAAT TRAVELLING
Berita ini 47 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 24 Februari 2024 - 19:20 WIB

Daftar Game Slot Gampang Maxwin Hari Ini

Senin, 8 Januari 2024 - 14:13 WIB

Slot Mahjong Ways Terbaru 2024 Modal 50K Maxwin Hingga 100JT

Minggu, 7 Januari 2024 - 19:51 WIB

Prabowo – Gibran Datang di Posisi Debat

Sabtu, 6 Januari 2024 - 09:45 WIB

7 Tips Perawatan Wajah Secara Alami Agar Kulit Sehat dan Segar

Rabu, 3 Januari 2024 - 09:39 WIB

Proses Jual Beli Rumah Secara Tunai

Rabu, 3 Januari 2024 - 09:14 WIB

Beginilah Cara Over Kredit Rumah Yang Aman

Sabtu, 30 Desember 2023 - 10:23 WIB

Bersiap Hadapi Pemilu 2024: PANWASLUCAM Gumukmas Akan Rekrut 270 Pengawas TPS

Kamis, 28 Desember 2023 - 06:51 WIB

BENDA-BENDA YANG HARUS DIBAWA SAAT TRAVELLING

Berita Terbaru