Mandeep Singh
India memposisikan inisiatif maritim “ekonomi biru” sebagai strategi pembangunan dan instrumen diplomatik di perairan Samudra Hindia yang makin strategis. Di tengah meningkatnya persaingan regional, New Delhi memajukan kerja sama dengan negara-negara pesisir lainnya melalui praktik maritim berkelanjutan, teknologi kelautan canggih dan investasi infrastruktur — sebuah pendekatan yang memperkuat ambisi Indo-Pasifiknya.
“Ekonomi biru bukan hanya tentang pembangunan; ini juga dapat menjadi jembatan diplomatik yang kuat antara India dan negara-negara tetangga Samudra Hindia,” demikian kata Lauren Dagan Amoss, seorang analis yang berspesialisasi di bidang kebijakan luar negeri India, kepada FORUM, mencatat bahwa sekitar 50% dari perdagangan global melewati Samudra Hindia.
Pendekatan India yang berkembang berlandaskan visi Kemajuan Timbal Balik dan Holistik untuk Keamanan dan Pertumbuhan di Seluruh Kawasan, yang bertujuan untuk memperkuat kemitraan keamanan maritim dan konektivitas ekonomi di seluruh Indo-Pasifik, sambil mendukung pengembangan negara-negara maritim yang lebih kecil. Diplomasi pertahanan India — terlihat jelas dalam penjualan rudal ke Filipina dan pemberian aset angkatan laut ke Vietnam — menyoroti kalibrasi ulang strategis New Delhi, terutama di tengah meningkatnya ketegangan dengan Tiongkok.
India dengan cepat mengembangkan kemampuan maritimnya, termasuk dengan peresmian kapal perairan dangkal anti-kapal selam pertama Angkatan Laut India yang diproduksi di dalam negeri, INS Arnala, pada Juni 2025. Kapal canggih tersebut bakal meningkatkan operasi pengawasan dan pelarangan di kawasan yang rentan terhadap ancaman seperti pembajakan.
Pada saat yang sama, India memajukan strategi yang komprehensif untuk mengembangkan kawasan pesisirnya, termasuk memodernisasi perikanan, meningkatkan akuakultur, dan menarik investasi di bidang energi terbarukan dan pariwisata — semua selaras dengan Sasaran Pembangunan Berkelanjutan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Inisiatif ini berupaya menggabungkan teknologi seperti kapal tenaga surya dan pemantauan laut yang didukung kecerdasan buatan.
“Negara-negara pesisir di seluruh Samudra Hindia perlu mengadopsi kebijakan ekonomi biru pintar — yang mendukung industri lokal sekaligus melindungi ekosistem laut yang mereka andalkan,” demikian kata Lauren Dagan Amoss.
Dalam konferensi Nor-Shipping Juni 2025 di Norwegia, pejabat India dan Jepang membahas perluasan kerja sama maritim, demikian menurut laporan Biro Informasi Pers India. Topiknya mencakup penelitian dan pengembangan, digitalisasi pelabuhan, pengembangan bersama pelabuhan dan kelompok industri maritim, serta infrastruktur yang tahan bencana.
“Hubungan antara India dan Jepang memiliki sejarah panjang yang berakar pada afinitas spiritual dan ikatan budaya dan peradaban yang kuat,” demikian kata Shri Sarbananda Sonowal, menteri pelabuhan, pengiriman, dan perairan India, dalam sebuah rilis berita. “Kolaborasi kami di bawah kerangka kerja Quad [dengan Australia dan Amerika Serikat] dan Supply Chain Resilience Initiative (SCRI) India-Jepang-Australia mencerminkan komitmen bersama kami untuk memperkuat keamanan maritim dan integrasi ekonomi regional.”
Mandeep Singh merupakan kontributor FORUM yang memberikan laporan dari New Delhi, India.