Indonesia dan Jepang mempercepat agenda pertahanan strategis bersama, menerjemahkan dialog tingkat tinggi ke dalam pengembangan kapabilitas dan kerja sama yang dilembagakan di tengah lingkungan keamanan Indo-Pasifik yang kompleks.
Pada Februari 2026, Menteri Pertahanan Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin dan Kepala Staf Pasukan Bela Diri Maritim Jepang Laksamana Akira Saito mengadakan pembicaraan di Jakarta untuk memperkuat komunikasi dan koordinasi angkatan laut. Mereka juga membahas kerja sama peralatan pertahanan, pengembangan teknologi, latihan multilateral, dan peningkatan forum pertahanan, yang menandakan pergeseran menuju perencanaan operasional terstruktur.
“TNI AL, yang berada di jantung Indo-Pasifik, telah lama menjaga jalur laut vital — yang tidak hanya menguntungkan Indonesia tetapi juga seluruh komunitas internasional, termasuk Jepang, serta berkontribusi pada Indo-Pasifik yang Bebas dan Terbuka,” demikian ungkap Kementerian Pertahanan Jepang.
Alex Jemadu, pakar hubungan internasional di Universitas Pelita Harapan Indonesia, mengatakan kepada FORUM bahwa berbagai area utama “membentuk konvergensi kepentingan strategis di antara kedua negara.” Hal itu termasuk melindungi jalur perdagangan Laut Cina Selatan berdasarkan hukum internasional, memastikan kerja sama pertahanan melindungi ikatan ekonomi bilateral yang luas, dan mendukung mekanisme penyelesaian konflik berbasis dialog.
Kedekatan yang semakin meningkat di antara Jakarta dan Tokyo “didorong oleh konvergensi visi maritim,” ungkap Budi Riyanto, dosen hubungan internasional di London School of Public Relations di Indonesia, kepada FORUM. “Di tengah lingkungan keamanan yang semakin sulit dan tidak pasti, kedua negara menyadari bahwa stabilitas maritim merupakan prasyarat mendasar bagi kemakmuran regional,” ungkapnya.
Kerja sama dalam bidang peralatan pertahanan merupakan inti kemitraan ini. Pada Januari 2026, Jepang setuju untuk memasok kapal patroli berkecepatan tinggi kepada TNI AL berdasarkan kerangka kerja Bantuan Keamanan Resmi Tokyo. Program hibah ini memperkuat kapabilitas keamanan dan penangkalan para mitra untuk mendukung perdamaian dan stabilitas.
Pejabat pertahanan Indonesia mengatakan kapal-kapal itu akan meningkatkan secara signifikan keamanan maritim di berbagai penjuru kepulauan yang luas ini.
Budi Riyanto juga mencatat rencana kedua negara untuk memproduksi bersama kapal fregat kelas Mogami Jepang, yang menampilkan desain siluman dan sistem modular. Proyek ini akan memperkuat kapabilitas ranah maritim Indonesia sembari membangun kapasitas industri pertahanan dalam negerinya.
Upaya semacam itu difasilitasi oleh perjanjian transfer peralatan dan teknologi pertahanan tahun 2021, demikian menurut Pudji Astuti, analis di Kementerian Pertahanan Indonesia. “Jepang sangat mendukung modernisasi sistem pertahanan maritim Indonesia, khususnya dengan meningkatkan kapabilitas maritim Indonesia melalui potensi transfer teknologi peralatan pertahanan, teknologi radar pesisir, dan kapal patroli berkecepatan tinggi,” ungkapnya kepada FORUM.
Jakarta dan Tokyo juga memperluas keterlibatan multilateral. Kementerian Pertahanan Jepang menyoroti kemajuan dalam pertukaran tingkat unit, termasuk latihan gabungan, dan diskusi tentang perlindungan informasi militer untuk mendukung kerja sama operasional yang lebih mendalam.
Budi Riyanto menyoroti dimensi regional yang lebih luas. “Dengan melibatkan mitra seperti Australia dan Amerika Serikat, Indonesia dan Jepang memperkuat arsitektur keamanan yang inklusif, tetapi tidak eksklusif,” ungkapnya. “Hal ini menciptakan norma perilaku maritim yang stabil dan mencegah kesalahan perhitungan militer di perairan yang disengketakan.”
Gusty Da Costa merupakan kontributor FORUM yang berbasis di Jakarta, Indonesia.