Operasi Militer di Yuguru Menyebabkan Krisis Pengungsi dan Kesulitan bagi Warga Sipil
Suara Warga

Operasi Militer di Yuguru Menyebabkan Krisis Pengungsi dan Kesulitan bagi Warga Sipil

JAYAPURA – Situasi di Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, semakin memprihatinkan, terutama bagi warga sipil yang terpaksa mengungsi akibat operasi militer yang berlangsung di daerah Yuguru, Distrik Mebarok. Selama lebih dari 11 bulan, mereka hidup di kamp pengungsian dengan keterbatasan bahan makanan dan kondisi kesehatan yang semakin memburuk.

Sejak 18 Januari 2025, Ketua Klasis Yuguru, Pdt. Sablik Karunggu, beserta 15 kepala keluarga dari Gereja Kemah Injil Indonesia (KINGMI) Klasis Yuguru memilih untuk mengungsi. Kebanyakan dari mereka berpindah ke lokasi-lokasi seperti Lanny Jaya, Asmat, Kenyam, dan Wamena, sementara yang lain terpaksa bertahan di hutan yang semakin sulit dijangkau karena minimnya bahan makanan.

Klasis Yuguru memiliki tiga gereja dan tiga pos Pekabaran Injil, serta terletak di Distrik Mebarok yang mencakup 14 kampung. Situasi semakin memburuk setelah pembebasan pilot Philip Mark Mehrtens, yang diikuti oleh kedatangan pasukan militer Indonesia di Yuguru, yang menyebabkan pengrusakan gedung dan rumah warga, serta tindakan kekerasan terhadap warga sipil.

Akibat operasi militer yang terus berlanjut, banyak warga Yuguru terpaksa mengungsi. Awalnya, mereka berusaha bertahan di hutan, namun keterbatasan makanan memaksa mereka untuk melanjutkan perjalanan ke Wamena, yang mereka tempuh selama lima hari dengan berjalan kaki. Pendeta Sablik Karunggu menjelaskan, kebun dan tempat tinggal mereka telah dikuasai oleh militer, sehingga mereka tidak memiliki pilihan lain.

“Kami dalam kepungan militer Indonesia. Banyak pos militer dibangun di Yuguru,” ungkap Sablik dalam sebuah rekaman video. Tercatat ada lima pos militer di wilayah tersebut, yang dikhususkan untuk mengawasi gerak warga sipil.

Selama berbulan-bulan, warga Yuguru tidak dapat kembali ke rumah karena kampung halaman mereka telah berada di bawah kendali militer. Beberapa di antara mereka yang mencoba pergi ke kebun untuk mencari makanan bahkan mengalami penembakan.

Pdt. Sablik menyampaikan harapannya agar warga Yuguru dapat kembali ke rumah mereka dengan aman. Dia mempertanyakan mengapa tindakan militer yang keras diambil setelah mereka berusaha membantu pemerintah dengan mengembalikan pilot yang disandera. “Kami sudah melakukan yang terbaik untuk menjaga keselamatan pilot, tetapi mengapa justru kami dibalas dengan kekerasan?” tanyanya.

Dia juga meminta kepada pihak-pihak terkait untuk memenuhi janji-janji yang disampaikan selama proses negosiasi pembebasan pilot. Harapannya adalah agar pembangunan infrastruktur seperti gereja, rumah sakit, sekolah, dan perumahan dapat segera direalisasikan sebagai bentuk bantuan bagi masyarakat yang terdampak.

Di tengah ketidakpastian ini, Pdt. Sablik mengajak pimpinan Gereja KINGMI Tanah Papua untuk bersuara mengenai keadaan pengungsian yang dialami jemaatnya. Dia mengungkapkan harapannya untuk mengakhiri operasi militer yang telah menyebabkan banyak penderitaan bagi warga sipil di Yuguru.

“Kami memohon kepada pemerintah agar segera menarik kembali pasukan militer dari Yuguru, karena ini bukan daerah operasi militer. Kami hanya ingin kembali ke rumah kami dengan aman,” tegasnya.

You can share this post!