Dalam beberapa waktu terakhir, muncul sebuah kasus yang menarik perhatian terkait peran public relations (PR) di sebuah lembaga riset. Di lembaga tersebut, PR yang sebagian besar diisi oleh para fungsional pranata humas dikategorikan sebagai sumber daya manusia (SDM) pendukung. Namun, penting untuk dicatat bahwa keberhasilan mencapai hasil yang diinginkan oleh suatu lembaga tidak dapat dipisahkan dari peran penting PR.
Dalam konteks biologi, istilah “nadi” merujuk pada pembuluh darah berotot yang membawa darah dari jantung. Memeriksa denyut nadi dapat menjadi indikator apakah jantung berfungsi dengan baik. Denyut nadi adalah hasil dari gelombang darah yang mengalir melalui arteri sebagai respons terhadap denyutan jantung. Dari pemahaman ini, kita bisa melakukan analogi dengan fungsi PR dalam suatu organisasi.
Fungsi PR meliputi komunikasi, membangun hubungan, mendukung manajemen, dan menciptakan citra positif (Ruslan, 2007). Dalam buku Principles of Management yang ditulis oleh Terry (2001), dijelaskan bahwa PR merupakan salah satu fungsi manajemen yang integral, berperan dalam mendukung manajemen dan kegiatan lainnya seperti promosi, pemasaran, dan operasional.
Secara harfiah, fungsi dan peran PR cenderung dipahami sebagai fungsi yang bersifat mendukung saja. Namun, dari sudut pandang yang lebih luas, banyak pihak sepakat bahwa fungsi PR sangat vital. PR seharusnya dipandang sebagai “nadi” dari lembaga, bukan sekadar sebagai fungsi pendukung.
Onong Uchyana Effendy (2007) dalam bukunya Hubungan Masyarakat mengutip pernyataan Scott M. Cutlip dan Allen Center dari buku Effective Public Relations, yang menjelaskan bahwa salah satu fungsi PR adalah memberikan nasihat kepada manajemen mengenai cara-cara untuk membentuk kebijakan dan operasional organisasi agar dapat diterima dengan baik oleh publik. Hal ini menunjukkan bahwa PR memiliki peran strategis dalam pengambilan keputusan di tingkat manajemen.
Dalam konteks pengelolaan krisis komunikasi, peran PR menjadi semakin penting. Mengelola krisis komunikasi bukanlah tugas yang ringan, dan bukanlah sekadar tanggung jawab elemen SDM pendukung. Apabila krisis komunikasi tidak dikelola dengan baik, maka dapat berakibat fatal bagi lembaga tersebut. Mengibaratkan PR sebagai nadi, jika nadi berhenti berdenyut, maka sama artinya dengan sebuah organisasi yang berhenti “bernapas”. Ini menunjukkan betapa pentingnya fungsi dan peran PR sebagai “nadi” institusi.
Dalam tubuh manusia, denyut nadi menunjukkan adanya kehidupan. Dalam konteks organisasi, kehidupan berarti adanya dinamika. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang dinamis, dan salah satu indikatornya adalah keberadaan PR yang sehat dan aktif. PR yang profesional tidak hanya melaksanakan tugas, tetapi juga berperan sebagai elemen penting dalam manajemen organisasi, bukan sekadar sebagai SDM pendukung.