Resolute Force Pacific (REFORPAC) 2025 dimulai pada awal Juli untuk menunjukkan kapabilitas Amerika Serikat dan Sekutu serta Mitranya untuk menyebarkan dan mengintegrasikan personel dan peralatan dengan cepat di seluruh Indo-Pasifik guna menanggapi ancaman bersama.
Koalisi yang terdiri dari ribuan personel dan lebih dari 300 pesawat terbang dari Australia, Kanada, Prancis, Jepang, Britania Raya, dan pasukan regional lainnya tengah berfokus pada peningkatan kesiapan tempur, integrasi pasukan gabungan, dan sinkronisasi operasional selama latihan perdana selama sebulan, yang diselenggarakan di pangkalan operasi garis depan di Guam, Hawaii, dan Jepang serta di wilayah udara internasional.
“Melalui pelatihan yang praktis dan canggih, kita akan memperkuat kemampuan respons gabungan Jepang dan A.S. serta berkontribusi pada perdamaian dan stabilitas regional,” ungkap Menteri Pertahanan Jepang Gen Nakatani saat latihan itu dimulai, demikian menurut grup berita Nikkei Asia.
Lebih dari 3.100 anggota Pasukan Bela Diri Udara Jepang dan sekitar 50 pesawat jet tempur turut berpartisipasi, termasuk pesawat tempur F-2, F-15, dan pesawat tempur siluman F-35, demikian yang dilaporkan Nikkei Asia. Pasukan yang berada di pangkalan militer Jepang akan menyimulasikan berbagai operasi seperti membuka kembali landasan pacu yang rusak dan mengangkut korban melalui udara.
“Kita harus siap beroperasi dalam kondisi yang sulit, dengan jaringan komunikasi yang menurun kualitasnya, serta menghadapi gangguan pada rantai pasokan dan dukungan logistik. Pasukan kita harus mandiri, lincah, dan mampu beradaptasi dengan cepat,” ungkap Marsekal Kevin Schneider, komandan Angkatan Udara A.S. di Pasifik (PACAF).
“Kondisi latihan selama REFORPAC akan menuntut para Penerbang untuk bergerak cepat, bertempur saat mendapatkan serangan, dan mempertahankan operasi tempur dengan cara yang belum pernah kita lakukan selama beberapa dekade,” ungkap Kevin Schneider.
REFORPAC menguji keterampilan penting Penerbang PACAF dan mitra mereka, seperti operasi jalur penerbangan, pemuatan munisi, pengisian bahan bakar cepat saat mesin masih hidup, pencarian dan penyelamatan tempur, logistik terdistribusi, dan pengisian bahan bakar udara-ke-udara multilateral.
“Kemampuan kita untuk bertempur dan menang dalam segala lingkungan yang disengketakan bergantung pada kemampuan tim kita dalam melancarkan penerbangan tempur saat diserang dan sering kali jauh dari pangkalan operasi utama kita,” ungkap Kevin Schneider. “Saya sangat yakin bahwa kita akan mampu melakukan ini, tetapi kita harus terus meningkatkan keterampilan kita agar tetap unggul dalam lingkungan tempat kita beroperasi.”
REFORPAC merupakan bagian dari rangkaian Latihan Tingkat Departemen Angkatan Udara yang mencakup seluruh matra militer A.S., bersama dengan Sekutu dan Mitra, lebih dari 350 pesawat terbang, serta lebih dari 12.000 personel militer A.S. di lebih dari 50 lokasi.
“Berlatih dengan kecepatan, skala, dan tempo seperti ini merupakan cara kita mempersiapkan diri untuk pertempuran di masa depan,” ungkap Kepala Staf Angkatan Udara A.S. Marsekal David Allvin dalam sebuah pernyataan. “Kita membutuhkan Penerbang yang bergerak cepat dan berpikir kreatif, untuk merombak status quo operasi yang sudah usang atau kurang efektif. Kita juga membangun kepercayaan dan pemahaman melalui perencanaan, operasi, dan pembelajaran yang matang bersama dengan mitra kita di seluruh Pasifik.”