Banjir dan longsor yang melanda Sumatra sejak November 2025 telah mengakibatkan lebih dari satu juta orang mengungsi, serta mengganggu berbagai aspek kehidupan seperti pendidikan dan perekonomian. Kejadian bencana ini, meskipun belum ditetapkan sebagai bencana nasional, telah memicu seluruh lapisan masyarakat untuk bersatu dan memberikan bantuan dengan segala cara yang mereka miliki.
Bagi mereka yang tidak dapat terjun langsung ke lokasi bencana, berbagai bentuk aktivisme digital pun berkembang pesat. Gerakan kolektif ini melibatkan ojek online, organisasi mahasiswa, akademisi, tokoh publik, serta komunitas ibu-ibu pengajian yang semua bersama-sama berupaya membantu korban bencana. Salah satu inisiator penggalangan dana adalah Ferry Irwandi, seorang tokoh publik yang berhasil mengumpulkan lebih dari 10 milyar rupiah melalui platform Kitabisa.com.
Gerakan sukarelawan menjadi napas baru bagi masyarakat yang terdampak bencana. Di dalam organisasi, aksi dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah yang melaksanakan penyaluran dana melalui Lazis Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah menjadi harapan untuk terus berupaya membantu sesama. Selain itu, banyak individu juga berperan sebagai penyebar informasi di media sosial, memberikan update langsung dari lapangan mengenai kondisi terkini dan kebutuhan mendesak.
Sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh Litbang Kompas menunjukkan bahwa antusiasme masyarakat untuk berpartisipasi dalam penanganan bencana di Sumatra cukup tinggi. Indorelawan, sebuah organisasi nonprofit yang telah beroperasi sejak 2012, berperan penting dalam mendorong aksi kerelawanan di Indonesia. Hingga tahun 2020, mereka telah berhasil melibatkan 150.000 relawan, sebagian besar merupakan kalangan muda, di berbagai daerah dan kegiatan.
Indorelawan menyediakan platform bagi organisasi dan komunitas untuk mencari relawan dengan mengunggah informasi terkait kebutuhan relawan serta deskripsi acara. Selain itu, Yayasan Kitabisa juga berinovasi dengan gerakan Kitabisa Voluntrip, yang menggabungkan kegiatan kerelawanan dengan pengalaman yang menarik, menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperluas dukungan.
Nilai gotong royong yang dijunjung tinggi di Indonesia, bersinergi dengan nilai Muhammadiyah yaitu taawun, mendorong masyarakat untuk saling membantu tanpa memandang latar belakang. Penelitian yang dilakukan oleh Akhtar, Pertiwi, dan Mashuri pada tahun 2021 mengungkapkan bahwa motivasi relawan dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya keinginan untuk memberikan manfaat bagi orang lain dan pengembangan diri.
Dengan dua motivasi terbesar tersebut, pergerakan kerelawanan di Indonesia terus berlangsung. Hal ini menjadi tanda harapan di tengah kurangnya empati dari pemangku kebijakan. Masyarakat yang terus bergerak untuk membantu sesama menjadi bagian penting dalam menghadapi tantangan bencana yang ada.