Suara News - A A A
SUARA UTAMA,Merangin – Aktivitas penambangan emas ilegal (PETI) yang diduga menggunakan alat berat ekskavator kembali menunjukkan wajah bengisnya. Kali ini, dampaknya nyaris berujung petaka terhadap dunia pendidikan dan keagamaan. Pondok Pesantren Tahfiz Al Karim yang berada di Desa Bungo Tanjung, Kecamatan Pangkalan Jambu, Kabupaten Merangin, dilaporkan berada dalam kondisi mengkhawatirkan akibat aktivitas tambang ilegal yang beroperasi sangat dekat dengan lingkungan pesantren.
Berdasarkan informasi yang dihimpun media ini di lapangan, warga setempat mengungkapkan bahwa aktivitas PETI tersebut dilakukan secara membabi buta, tanpa memikirkan dampak lingkungan dan keselamatan sekitar. Getaran dari alat berat yang terus bekerja siang dan malam disebut telah menyebabkan retakan panjang pada beberapa bangunan asrama santri, khususnya asrama putri, bahkan di beberapa lantai bangunan.
Kondisi ini menimbulkan ketakutan dan keprihatinan mendalam di kalangan santri. Mereka khawatir bangunan asrama yang mereka tempati sewaktu-waktu dapat roboh dan menimbulkan korban jiwa.
BACA JUGA : AKPERSI Sumsel Gelar Musdalub dan Lantik Pengurus Baru 2026 - 2031
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami sangat takut. Retakannya panjang sekali, jelas terlihat. Aktivitas tambang itu benar-benar merusak alam dan membahayakan kami. Kalau runtuh, kami mau lari ke mana?” ujar salah satu santri dengan nada cemas.
Keluhan serupa juga disampaikan oleh santri lainnya yang menilai para pelaku tambang sama sekali tidak memiliki rasa tanggung jawab sosial.
“Mereka seolah tidak peduli pesantren ini ada. Alam dirusak, bangunan kami terancam. Kami hanya ingin belajar dan menghafal Al-Qur’an dengan tenang,” ungkap santri lain.
Tak hanya santri, wali murid pun turut menyuarakan kemarahan dan kekecewaan. Mereka menilai aktivitas PETI tersebut telah melewati batas dan mencerminkan ketiadaan penegakan hukum.
BACA JUGA : Diduga Milik Yuki, Excavator PETI di Desa Lubuk Beringin Makin Tak Terkendali
“Ini bukan sekadar tambang ilegal, ini sudah mengancam keselamatan anak-anak kami. Kalau aparat diam saja, jangan salahkan masyarakat kalau menyebut hukum sekarang tumpul ke atas dan tajam ke bawah,” tegas salah seorang wali santri.
Ironisnya, lokasi aktivitas PETI tersebut disebut tidak jauh dari Kantor Camat Pangkalan Jambu, sehingga menimbulkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: apakah aktivitas perusakan lingkungan ini benar-benar tidak terlihat oleh aparat?
Warga dan wali santri menduga para pelaku PETI merasa kebal hukum dan seolah memiliki orang kuat di balik layar, sehingga tetap beroperasi meski dampak kerusakan sudah nyata dan keluhan masyarakat terus disuarakan. Bahkan, disebut-sebut imbauan dan peringatan dari pemerintah daerah tidak digubris.
BACA JUGA : Diduga Kebal Hukum, Aktivitas Dompeng Milik Ta'at Dekat Pesantren Dhuafa Bangko Resahkan Warga
Sindiran keras pun mengemuka dari masyarakat. Mereka menilai penegakan hukum terkesan mandul ketika berhadapan dengan pelaku perusakan lingkungan berskala besar.
“Kalau rakyat kecil yang melanggar, cepat ditindak. Tapi kalau sudah pakai ekskavator, merusak alam, dan mengancam pesantren, malah dibiarkan. Di mana keadilan itu?” ujar warga setempat.
Atas kondisi tersebut, masyarakat, santri, dan wali murid meminta dengan tegas agar aparat penegak hukum, khususnya Polsek Sungai Manau, Polres Merangin, serta Bupati Merangin, segera turun langsung ke lokasi, mengecek kondisi bangunan pesantren, dan menindak tegas para pelaku PETI tanpa pandang bulu.
Mereka menegaskan, jika aktivitas tambang ilegal ini terus dibiarkan, maka bukan hanya alam yang hancur, tetapi juga masa depan para santri yang terancam oleh pembiaran dan lemahnya penegakan hukum.
Penulis : Ady Lubis
Sumber Berita: Wartawan Suara Utama
Berita Terkait
Buruh Tambang Keluhkan Hari Libur Nasional Dihilangkan, Tetap Masuk Kerja Namun Dibayar Hari Biasa
Temui Massa Tani, Bupati Berau Dorong PT TRH Beri Ganti Kerohiman Tanam Tumbuh
Serah Terima Jabatan Pengurus Baru MKKS SMP Padang Pariaman
Kemnaker Buka Program Padat Karya, TKM Pemula dan TKM Lanjutan Tahun 2026
IPMADO Nabire Gelar demo Tuntut Pengusutan Kasus Dogiyai Berdarah
Konflik ini memuncak dalam pertemuan di Kantor Camat Teluk Bayur. Masjid yang lama saja berukuran 16×16 meter, Mengapa sekarang membantu bertambah kecil.
Kritik menghantam Pemerintah Kabupaten Kutai Timur. Rp75 miliar untuk pengadaan, Kendaraan khusus. Sementara jalan dari Rantau Pulung ke Sangatta. gang-gang di pusat kota masih kupak-kapik
Pelajar SMA di Dogiyai Dilaporkan Tewas Ditembak, Warga Minta Investigasi Independen
Berita ini 62 kali dibaca
Tag : Bupati Merangin KAPOLDA JAMBI Kapolres Merangin Kapolsek Sungai Manau
Berita Terbaru
Berita Utama
Buruh Tambang Keluhkan Hari Libur Nasional Dihilangkan, Tetap Masuk Kerja Namun Dibayar Hari Biasa
Hukum
Permainkan Wartawan, Pengurus KSP Cemara Indah Pratama Tunjukkan Dokumen Fidusia Milik Orang Lain Terkait Kasus Nasabah Korban Begal
Nasional
Klarifikasi Direktur RSUD Waluyo jati, Hasil Audit Belum Ada Temuan BPK dan Bersikap Kooperatif, Terbuka Terhadap Seluruh Proses
Nasional
Waspada Heat Exhaustion di Musim Panas, Kenali Gejala dan Cara Pencegahannya
Bisnis
Advokat Kaltim Temukan Puluhan Klausul Bermasalah dalam Perjanjian Kerja Perusahaan Transportasi
Berita Utama
Temui Massa Tani, Bupati Berau Dorong PT TRH Beri Ganti Kerohiman Tanam Tumbuh