BRIN Kembangkan Platform Geologi untuk Mitigasi Bencana dan Eksplorasi
Sumber Foto: BRIN - Badan Riset dan Inovasi Nasional
Teknologi

BRIN Kembangkan Platform Geologi untuk Mitigasi Bencana dan Eksplorasi

Suara News - Bandung – Humas BRIN. Kebutuhan akan data geologi yang akurat dan terintegrasi untuk mendukung eksplorasi geologi, mitigasi kebencanaan, hingga perencanaan berbasis geospasial kian mendesak. Menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Sumber Daya Geologi (PRSDG) memperkuat pengembangan platform teknologi mandiri yang mengintegrasikan survei lapangan, pengolahan data, hingga analisis laboratorium. Langkah ini sekaligus diarahkan untuk memastikan ketersediaan informasi yang andal dalam mendukung riset serta pengambilan keputusan strategis lintas sektor.

Kepala Pusat Riset Sumber Daya Geologi (PRSDG) BRIN, Iwan Setiawan menyampaikan bahwa pengembangan platform mencakup sistem survei lapangan, akuisisi dan pengolahan data, serta analisis laboratorium guna menghasilkan informasi yang akurat, detail, dan dapat digunakan secara luas dalam riset maupun pengambilan keputusan. Ia menyambut baik kehadiran pihak industri untuk melihat potensi sinergi dan peluang kerja sama riset.

“Kami sangat terbuka untuk berdiskusi mengenai dukungan teknologi survei dan sumber daya geologi, terutama yang dapat diimplementasikan untuk kepentingan riset maupun kebutuhan masyarakat luas,” ujar Iwan saat menerima kunjungan strategis dari PT Lextera Survey Indonesia dalam rangka penjajakan kerja sama riset dan inovasi teknologi survei, geologi, serta kebencanaan di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Samaun Samadikun, Bandung, Rabu (29/04).

Iwan menekankan bahwa karakteristik riset ilmu kebumian dalam mengumpulkan data lapangan yang representatif, akurat, dan terperinci, dilanjutkan oleh kegiatan analisis laboratorium yang mutakhir, perlu mendapat dukungan peralatan survei yang lengkap serta alat laboratorium kebumian yang modern, valid, dan terintegrasi.

“Hal ini menjadi semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan riset geologi, khususnya sumber daya geologi, untuk mendukung ketahanan mineral, hilirisasi, dan pencapaian target net zero emission,” jelasnya.

Direktur PT Lextera Survey Indonesia, Rudhi Wibawa, dalam pemaparannya mengungkapkan bahwa tujuan utama kunjungan ini adalah membangun kolaborasi dalam pengembangan platform teknologi secara mandiri. Ia menjelaskan tantangan proteksi teknologi global yang sering kali menghambat operasional di lapangan, seperti kendala konektivitas pada infrastruktur kritis.

“Melalui kolaborasi dengan BRIN, diharapkan dapat tercipta irisan teknologi yang memperkuat ketahanan geologi, mitigasi kebencanaan, hingga efisiensi biaya operasional alat survei di Indonesia,” ucapnya.

Menurut Rudhi, diperlukan langkah strategis bagi Lextera dalam memperkuat sinergi teknologi dengan BRIN. Ia pun berharap kolaborasi ini dapat mempercepat integrasi inovasi mutakhir ke dalam solusi praktis yang relevan dengan kebutuhan industri nasional.

Lextera berkomitmen untuk terus mendukung riset dan pengembangan berkelanjutan yang berdampak langsung pada efisiensi operasional di lapangan. “Kami optimis bahwa dukungan teknis dan pertukaran keahlian dengan BRIN akan menciptakan standar baru dalam penyediaan layanan survei dan teknologi geospasial yang lebih akurat dan andal”, ujarnya.

Kolaborasi Jadi Kunci Penguatan Riset Sesar Aktif di Indonesia

Sonny Aribowo, Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) BRIN, menjelaskan aktivitas penelitiannya terkait sesar aktif di Indonesia dengan memanfaatkan teknologi drone. Dalam pelaksanaannya, ia masih menghadapi kendala keterbatasan peralatan dan sumber daya manusia (manpower), sehingga membuka peluang kolaborasi ke depan.

Sejalan dengan hal tersebut, Dini Nurfiani, peneliti PRKG, bersama Rizka Maria, peneliti PRSDG, menekankan pentingnya kerja sama dalam pemanfaatan peralatan survei secara bersama untuk mendukung kegiatan riset. Selain itu, Lediyantje Lintjewas dan Purnama Sendjaja, peneliti PRSDG, juga mengharapkan agar dapat dikembangkan platform teknologi riset terpadu, khususnya di bidang eksplorasi mineral.

Menanggapi berbagai kebutuhan tersebut, Peneliti Ahli Utama PRSDG BRIN, Noor Cahyo Dwi Aryanto, memberikan catatan kritis mengenai fleksibilitas alat di berbagai medan, termasuk wilayah perairan. Ia menyoroti pentingnya kemampuan penetrasi alat serta peluang kolaborasi konkret yang saling menguntungkan, dengan berkaca pada studi kasus proyek strategis seperti pembangunan Giant Sea Wall di Jakarta.

Merespons hal ini, Technical Support PT Lextera Survey Indonesia, Alvindo, menjelaskan bahwa meskipun mayoritas studi kasus saat ini berada di darat, yaitu pada sektor pertambangan, pihaknya telah memiliki solusi teknologi untuk medan perairan.

“Untuk kebutuhan survei di wilayah perairan, kami memiliki teknologi SV600 Unmanned Surface Vessel. Alat ini dirancang khusus untuk melakukan survei batimetri dan pemetaan bawah air secara otonom, yang sangat memungkinkan untuk diimplementasikan dalam studi kasus pembangunan infrastruktur pesisir maupun riset kelautan lainnya,” ujar Alvindo.

Dengan adanya pertukaran pandangan tersebut, diskusi ini diharapkan menjadi langkah awal dalam penyusunan kerangka kerja sama yang lebih konkret, baik dalam bentuk pengembangan platform bersama maupun pengujian teknologi survei mutakhir guna mendukung keberlanjutan riset geologi dan kebencanaan di Indonesia. (ds,sn/ ed.kg,jml)