Jurnalisme Warga dan Suara Perempuan: Menghadirkan Narasi Kritis dari Pinggiran ke Pusat
Suara Warga

Jurnalisme Warga dan Suara Perempuan: Menghadirkan Narasi Kritis dari Pinggiran ke Pusat

Di tengah cepatnya perkembangan media dan arus informasi, suara perempuan masih sering terpinggirkan. Meskipun mereka memainkan peran penting dalam menangani berbagai isu sosial, politik, ekonomi, dan lingkungan, pengalaman serta perspektif mereka belum sepenuhnya terwakili di media mainstream. Representasi perempuan sering kali terjebak dalam stereotip, menjadikan mereka sebagai objek pemberitaan alih-alih subjek dengan otoritas pengetahuan dan pengalaman.

Dalam konteks ini, jurnalisme warga hadir sebagai alternatif yang strategis, memberikan ruang bagi perempuan untuk menyampaikan cerita dan membangun narasi dari pengalaman hidup mereka, terutama dalam advokasi dan keterlibatan komunitas. Melalui jurnalisme warga, isu-isu yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari perempuan seperti ketidaksetaraan gender, kekerasan berbasis gender, ketimpangan akses ekonomi, dan dampak krisis iklim dapat diangkat dengan lebih holistik.

Penelitian menunjukkan bahwa partisipasi perempuan dalam jurnalisme warga tidak hanya memperkuat demokratisasi informasi tetapi juga menumbuhkan empati sosial dan solidaritas di komunitas. Jurnalisme yang berperspektif gender berpotensi membongkar bias dalam pemberitaan, menghadirkan narasi yang lebih adil dan seimbang, terutama di era di mana media arus utama sering kali menyajikan isu perempuan secara sensasional dan terfragmentasi, kehilangan konteks struktural dan dimensi keadilan sosial.

Menanggapi tantangan ini, Jaringan Gender Indonesia (JGI) bekerja sama dengan Pelakita.ID mengadakan kegiatan lokalatih bertema "Jurnalisme Warga dan Suara Perempuan: Membangun Narasi Melalui Jurnalisme Kritis". Kegiatan ini akan berlangsung pada Kamis, 29 Januari 2025, pukul 08.30–11.00 WITA, di Rumata’ ArtSpace, Makassar, didukung oleh Program Studi Jender dan Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin.

Direktur JGI, Lily D. Candinegara, menyatakan bahwa perempuan perlu lebih dari sekadar ruang untuk menulis; mereka juga memerlukan keterampilan untuk membangun narasi yang kuat, kritis, dan berbasis fakta. "Jurnalisme warga memberi peluang bagi perempuan untuk berbicara atas nama pengalaman mereka sendiri. Ketika perempuan menulis dengan perspektif kritis dan berkeadilan, mereka menantang bias media dan merawat demokrasi," kata Lily.

Lokalatih ini dirancang untuk tidak hanya memberikan pelatihan menulis teknis, tetapi juga sebagai ruang refleksi kritis, penguatan jejaring, dan konsolidasi gerakan. Peserta akan diajak memahami bahwa narasi yang baik bukan hanya menceritakan pengalaman pribadi, tetapi juga mengaitkannya dengan struktur sosial, kebijakan publik, dan relasi kuasa yang lebih luas, sehingga tulisan perempuan dapat berfungsi sebagai alat advokasi yang mendorong perubahan nyata.

Kegiatan ini ditujukan untuk peserta umum, dengan fokus pada perempuan, pegiat komunitas, jurnalis warga, mahasiswa, serta aktivis sosial dan lingkungan. Agenda kegiatan mencakup diskusi mengenai tantangan partisipasi perempuan dalam media dan ruang publik, yang akan dipandu oleh Lusia Palulungan, yang juga akan membahas hambatan struktural dan kultural seperti bias media dan relasi kuasa.

Selanjutnya, Kamaruddin Azis, Founder Pelakita.ID, akan berbagi tentang strategi advokasi dan teknik merilis suara komunitas, serta peran jurnalisme warga sebagai alat perubahan sosial. Muhammad Fathul Fauzy, M.I.Kom, Bupati Bantaeng, juga akan memberikan refleksi pengalaman dari Bantaeng tentang dukungan pemerintah terhadap perempuan dan anak melalui kepemimpinan dan kolaborasi lintas sektor.

Keberhasilan lokalatih ini diharapkan tidak hanya terukur dari peningkatan pengetahuan peserta mengenai isu-isu perempuan dan urgensi suara kritis, tetapi juga dari lahirnya inisiatif untuk memilih isu, menentukan fokus, serta keberanian dan konsistensi untuk menulis. Kegiatan ini diharapkan menjadi titik awal terbentuknya jaringan perempuan penulis warga yang terus membangun narasi kritis dan penuh harapan bagi masyarakat.

Lily D. Candinegara menegaskan, "Ketika suara perempuan tidak lagi berada di pinggir, melainkan di pusat perbincangan publik, di situlah jurnalisme warga berperan penting dalam memperjuangkan keadilan sosial dan memperkuat demokrasi."

You can share this post!