Perayaan Natal kerap identik dengan tradisi berbagi bingkisan atau kado. Kebiasaan tukar-menukar hadiah ini telah berlangsung lama, setidaknya sejak era Romawi Kuno pada abad ketiga. Dalam linimasa sejarahnya, tradisi hadiah Natal juga dikaitkan dengan sosok Santo Nicholas (271-343), Uskup Myra (kini wilayah Turki) yang dikenal dermawan.
Dalam perkembangannya, Nicholas kemudian dikenal sebagai Santa Claus atau Sinterklas. Sosok Sinterklas digambarkan sebagai kakek berkumis dan berjanggut putih, berpakaian merah, yang membagikan hadiah kepada anak-anak menjelang Natal.
Hingga kini, kebiasaan berbagi kado Natal tetap dilakukan, baik untuk anak, kerabat, tetangga, maupun relasi. Survei Twitter menyebutkan, 60 persen publik Inggris berencana membeli hadiah Natal. Jenis kado yang banyak disebut antara lain pakaian, makanan atau hampers, parfum, mainan, serta alat kecantikan.
Di Amerika Serikat, jajak pendapat Gallup pada 1–6 November 2021 juga menangkap minat warga untuk membeli hadiah Natal. Rata-rata alokasi belanja yang disiapkan responden untuk kado Natal tahun ini sebesar 886 dollar AS, meningkat dibanding 2019 yang berada di angka 852 dollar AS.
Dari sisi metode pembelian, belanja daring menjadi pilihan yang banyak diambil karena kemudahan akses dan pertimbangan keamanan di tengah pandemi Covid-19. Meski demikian, sebagian warga tetap memilih membeli langsung di pusat perbelanjaan, department store, atau toko khusus seperti toko mainan, pakaian, dan perhiasan. Gallup mencatat belanja hadiah di pusat perbelanjaan sangat populer pada era 1990-an, didorong oleh pembangunan department store di berbagai kota dan tawaran diskon menjelang Natal.
Aktivitas seputar kado Natal juga terlihat di media sosial dan mesin pencari. Pantauan aplikasi Talkwalker pada 16–22 Desember 2021 mencatat 2,6 juta warganet membagikan konten dan perbincangan terkait kado Natal, dengan puncak aktivitas pada 22 Desember 2021.
Salah satu unggahan yang menyita perhatian saat itu datang dari akun Twitter majalah Australia @GQAustralia, yang mengumumkan hadirnya “hadiah Natal” bagi penggemar superstar pop Korea, #BTS. Sampul digital terbaru GQ Australia yang menampilkan pemotretan dan wawancara dengan ketujuh anggota BTS dalam bahasa Inggris memicu antusiasme warganet.
Di Google, penelusuran kata “christmas gift” pada periode 21 November 2021–21 Desember 2021 menunjukkan tren peningkatan. Google Trends mencatat puncak pencarian terjadi pada 17 Desember 2021 dengan skor 100. Dalam tren lima tahun, rentang sekitar 15–21 Desember memang kerap menjadi puncak pencarian informasi hadiah Natal.
Pada 2021, peningkatan pencarian sudah tampak sejak November, lalu menanjak memasuki Desember. Skor pencarian tercatat 49 pada 21 November 2021, naik menjadi 56 pada 26 November 2021, dan meningkat hingga 95 pada 16 Desember 2021. Salah satu momentum pada periode tersebut adalah Black Friday, yang jatuh pada 26 November 2021, sehari setelah Thanksgiving.
Google merekam sejumlah kata kunci yang banyak dicari warganet, di antaranya kartu ucapan Natal dan bingkisan parsel atau hampers. Kartu Natal sendiri merupakan ikon perayaan Natal. Tradisi mengirim kartu ucapan Natal dikenal luas setelah Henry Cole dan John Callcott Horsley membuat kartu Natal pertama di Inggris pada 1843, lalu menyebar ke Eropa dan Amerika Serikat.
Di luar kartu Natal, ragam hadiah juga menjadi pilihan masyarakat. Sebelum pandemi, cokelat, buku, kosmetik, pakaian, serta angpau berupa uang disebut sebagai jenis-jenis hadiah yang banyak dibeli masyarakat Eropa. Publikasi Christmas Survey 2019 dari Deloitte menunjukkan alokasi belanja terbesar warga Eropa saat Natal adalah untuk membeli kado, disusul kuliner dan berwisata.
Media sosial turut dimanfaatkan untuk membantu mencari informasi dan menentukan jenis kado. Survei Deloitte menangkap peran media sosial dalam berbagai tahap, mulai dari mencari produk, mendapatkan gagasan hadiah, mengecek harga, membaca ulasan atau rekomendasi, hingga menemukan potongan harga, promo, dan informasi penjual.
Ruang digital juga membuka partisipasi warganet dalam memilih hadiah yang lebih peduli lingkungan. Salah satunya melalui kampanye Green Christmas, yang disebut disambut 70 persen warganet Inggris dengan rencana mengurangi sampah saat Natal. Ajakan lain yang turut menggema adalah menjadikan kado Natal sebagai donasi atau charity bagi pihak yang kurang beruntung.
Seiring meningkatnya penggunaan internet dan media sosial, kemeriahan Natal makin marak di dunia maya. Pencarian informasi terkait hadiah tidak hanya menyangkut bentuk fisik kado, tetapi juga perbincangan lain seperti lagu Natal, pohon Natal, hingga liburan Natal.
Isu “kado Natal” juga sempat dikemas sebagai konten politik. Pada puncak perbincangan 21 Desember 2021, tautan berita dari media AS, New York Post, menyebut Presiden AS Joe Biden memberikan “kado Natal” berupa kebijakan Build Back Better Plan. Kebijakan itu digambarkan sebagai rencana pendanaan untuk penanganan Covid-19, layanan sosial, bantuan kesejahteraan, infrastruktur, serta dana untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Salah satu polemik yang mengemuka adalah kekhawatiran atas meningkatnya pengeluaran pemerintah di tengah kenaikan inflasi.
Dari kueri dan tagar yang digunakan warganet, keluarga—seperti kakak, adik, ayah, dan istri—serta kolega seperti guru dan teman kerja menjadi sosok yang banyak disebut sebagai penerima hadiah. Hal ini menggambarkan kado Natal sebagai sarana mewujudkan kehangatan perayaan bersama keluarga dan kerabat dekat.
Di sisi lain, kado dipandang sebagai simbol, bukan puncak perayaan. Tagar #christmas sempat menjadi trending topic pada 20 Desember 2021, dipicu unggahan akun resmi Paus Fransiskus (@Pontifex). Dalam pesannya, Paus menulis bahwa pohon Natal adalah simbol kelahiran kembali dan anugerah Tuhan, sementara lampu pada pohon mengingatkan pada cahaya Yesus—cahaya kasih yang terus bersinar. Pesan itu menekankan makna Natal sebagai anugerah bagi umat manusia dan momentum untuk terus berbagi kepada sesama, terutama mereka yang kecil, lemah, tersingkir, dan difabel.