Sleman – Berangkat dari sebuah padukuhan sederhana di Kabupaten Sleman, tepatnya di Padukuhan Ngentak RT 3 RW 29, Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan, sebuah gerakan sosial tumbuh, mengakar, dan terus menyala hingga hari ini. Dari tempat inilah Laskar Sedekah, komunitas sosial independen, lahir dan mengabdikan diri sepenuhnya pada nilai kepedulian dan cinta kasih kepada sesama.
Laskar Sedekah resmi berdiri pada 30 Maret 2012, diprakarsai oleh Ma’ruf Fahrudin bersama enam orang pemuda. Dengan semangat kerelawanan, mereka mengibarkan “bendera” kemanusiaan melalui aksi nyata, khususnya membantu orang sakit dan anak yatim piatu non-panti yang kerap luput dari perhatian.
“Sejak awal kami ingin membantu dengan tindakan nyata, bukan sekadar wacana. Kami hadir untuk mereka yang sering tidak terlihat,” ujar Ma’ruf Fahrudin mengenang awal berdirinya Laskar Sedekah.
Seiring waktu, aktivitas Laskar Sedekah terus berkembang. Tidak hanya pendampingan sosial, para relawan juga sigap menangani home emergency, kecelakaan lalu lintas, pengantaran jenazah, hingga pengantaran pasien untuk keperluan check-up medis. Seluruh layanan dilakukan dengan satu prinsip utama hadir cepat dan tulus untuk masyarakat yang membutuhkan.
Khusus bagi anak yatim piatu non-panti, Laskar Sedekah tidak sekadar memberikan bantuan materi, tetapi juga memenuhi kebutuhan sekolah dan pangan dengan cara yang lebih manusiawi, yakni mengajak mereka berbelanja langsung ke toserba untuk memilih kebutuhannya sendiri.
Ditemui di Sekretariat Laskar Sedekah pada Rabu (28/1/2026), Ma’ruf menegaskan bahwa menjadi relawan bukanlah perkara ringan. Kerja tanpa bayaran, kesiapsiagaan selama 24 jam, serta tuntutan keikhlasan menjadi tantangan tersendiri.
“Kami selalu menekankan kepada relawan bahwa ini kerja kemanusiaan. Tidak dibayar, tapi penuh tanggung jawab. Karena itu yang paling penting adalah istiqomah,” tegasnya.
Dalam menjalankan misinya, Laskar Sedekah sepenuhnya bergantung pada sponsor dan donatur. Namun tidak jarang dana operasional tidak mencukupi. Dalam kondisi tersebut, para pengurus memilih menutup kekurangan dengan dana pribadi. Sikap ini sejalan dengan slogan mereka, “Jangan bayar kami, tapi doakanlah kami.”
Dengan tagline “ Urip iku Urup (hidup itu harus menyala), Ma’ruf dan rekan-rekannya berkomitmen menjadikan hidup lebih bermakna dengan memberi manfaat bagi sesama.
Lebih dari satu dekade mengabdi, Laskar Sedekah kini telah memiliki 18 cabang yang tersebar di berbagai kota di Jawa maupun luar Jawa. Kiprah mereka bahkan mendapat perhatian nasional melalui liputan program televisi swasta seperti Kick Andy dan Hitam Putih.
Meski demikian, tantangan terbesar tetap berada pada pengelolaan sumber daya manusia. Menjaga semangat relawan agar tetap ikhlas dan konsisten membutuhkan motivasi berkelanjutan serta dukungan tim yang solid. Oleh karena itu, Laskar Sedekah terus membangun jejaring, baik dalam pendanaan operasional, penyaluran amanah sedekah, maupun penentuan sasaran bantuan sosial.
Menariknya, para sponsor tidak pernah menuntut laporan keuangan secara detail. Kendati demikian, Laskar Sedekah tetap menjaga transparansi dengan membagikan laporan kegiatan secara virtual melalui foto dan video di media sosial. Ma’ruf juga secara konsisten mengingatkan relawan untuk menjaga amanah dan nama baik organisasi.
Sejak awal berdiri, Laskar Sedekah tidak menggantungkan harapan besar pada bantuan pemerintah. Kemandirian menjadi prinsip utama. Bahkan dalam praktiknya, instansi pemerintah justru kerap meminta bantuan Laskar Sedekah, khususnya dalam layanan ambulans untuk berbagai kepentingan sosial. Tak jarang pula komunitas ini dipercaya menjadi narasumber kegiatan motivasi.
Tanpa janji muluk dan tanpa pamrih, Laskar Sedekah terus melangkah. Menyalakan hidup, satu aksi kemanusiaan pada satu waktu. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)
Bagikan: