Tim peneliti dari Universitas Stanford, Amerika Serikat, telah berhasil melakukan pencatatan detak jantung paus biru, sebuah pencapaian yang selama ini dianggap sulit untuk dilakukan. Ini merupakan kali pertama ilmuwan memperoleh data ilmiah mengenai detak jantung dari makhluk terbesar di planet ini.
Untuk merekam detak jantung paus biru, alat perekam yang dilengkapi dengan berbagai sensor diletakkan di dekat sirip kiri paus. Proses pencatatan dilakukan menggunakan elektroda yang mampu merekam detak jantung secara akurat.
Penelitian ini, yang hasilnya dipublikasikan di jurnal Proceedings of National Academy of Sciences pekan lalu, menunjukkan bahwa jantung paus biru berfungsi pada kapasitas maksimal. Temuan ini memberikan wawasan mengenai batasan ukuran fisik yang dapat dicapai oleh paus biru, menjelaskan mengapa spesies ini tidak berevolusi menjadi lebih besar lagi.
Studi ini tidak hanya menambah pengetahuan dasar tentang biologi paus biru, tetapi juga dapat memberikan informasi penting untuk upaya konservasi spesies ini. Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai fisiologi mereka, langkah-langkah perlindungan yang lebih efektif dapat dirumuskan untuk memastikan kelangsungan hidup paus biru di lingkungan mereka yang semakin terancam.