Sejak awal tahun 1950-an, dua kemitraan utama telah menjadi landasan stabilitas dan kemakmuran di Indo-Pasifik: aliansi Amerika Serikat dengan Jepang dan Korea Selatan. Masing-masing kemitraan itu tumbuh dari kehancuran akibat perang tetapi berkembang menjadi pilar penangkalan, pertumbuhan ekonomi, dan ketahanan demokrasi. Nilai abadi kemitraan itu terlihat dalam arsitektur keamanan yang mereka junjung tinggi, tantangan yang mereka hadapi, dan prinsip bersama yang membimbing mereka.
FORUM telah mencatat berbagai kekuatan ini selama 50 tahun penerbitannya.
Aliansi Jepang-A.S.
Kedalaman komitmen A.S. terhadap pertahanan Jepang berdasarkan Perjanjian Kerja Sama dan Keamanan Timbal Balik tahun 1960 ditunjukkan oleh 55.000 personel militer A.S. yang ditempatkan di Jepang, dan ribuan warga sipil serta anggota keluarga yang tinggal dan bekerja bersama mereka. Pasukan Jepang dan A.S. telah berlatih bersama-sama sejak akhir tahun 1990-an, dimulai dengan latihan Keen Sword. A.S. mengerahkan aset militer tercanggihnya ke Jepang, termasuk kelompok kapal induk pemukul USS Ronald Reagan dan pesawat jet tempur F-35.
Aliansi itu telah berkembang menjadi salah satu struktur keamanan yang paling mumpuni dan mudah beradaptasi di dunia. Selama lebih dari enam dekade, Pasukan Bela Diri Jepang telah berkembang menjadi organisasi yang maju secara teknologi dan bekerja sama secara harmonis dengan pasukan A.S. di semua ranah. Personel A.S. yang dikerahkan di Jepang memberikan kapabilitas respons cepat, sementara itu pembagian intelijen canggih dan jaringan logistik Jepang mendukung postur regional.
Dari strategi pembendungan Perang Dingin hingga penangkalan modern terhadap paksaan di Laut Cina Timur dan Laut Cina Selatan, aliansi itu telah menyesuaikan diri tanpa kehilangan koherensi. Aliansi itu mendukung kebebasan navigasi, memperkuat hukum dan norma internasional, serta menyediakan landasan bagi vitalitas perekonomian kawasan ini. Nilai-nilai aliansi itu, yaitu transparansi, tata kelola demokratis, dan komitmen terhadap penyelesaian sengketa secara damai, menjaga kredibilitas dan pengaruhnya.
Pada Februari 2025, pemimpin kedua negara menyatakan keinginan mereka untuk terus meningkatkan kerja sama keamanan dan pertahanan serta menegaskan kembali bahwa Aliansi Jepang-A.S. tetap menjadi landasan perdamaian, keamanan, dan kemakmuran di Indo-Pasifik.
Aliansi Korea Selatan-A.S.
Aliansi Korea Selatan-A.S., yang terlahir di tengah kobaran api Perang Korea dan dikodifikasi dalam Perjanjian Pertahanan Timbal Balik tahun 1953, mencegah keruntuhan Korea Selatan dan sejak itu telah menjadi fondasi bagi keberhasilan ekonomi dan demokrasi Seoul. Apa yang bermula sebagai kemitraan militer kini menjadi kerangka keamanan komprehensif yang mencakup berbagai elemen yang di antaranya adalah penangkalan nuklir, integrasi pasukan konvensional, pertahanan siber, dan koordinasi kemanusiaan.
Aliansi ini dibangun berdasarkan kesiapan dan kepercayaan. Prajurit Korea Selatan dan A.S. melakukan latihan, perencanaan, dan operasi secara bersama-sama pada tingkat integrasi yang tinggi, dan sekitar 28.500 personel militer A.S. ditempatkan di Korea Selatan. Latihan gabungan mengasah pengambilan keputusan yang cepat dan interoperabilitas, sehingga memastikan bahwa penangkalan tetap kredibel dalam menghadapi ancaman yang terus berkembang. Aliansi itu telah memperluas cakupannya ke dalam bidang kerja sama teknologi, ketahanan rantai pasokan, dan pengembangan bersama berbagai kapabilitas canggih.
Pada Juli 2025, pejabat senior dari kedua negara bertemu di Seoul untuk membahas penguatan kemitraan menjadi “aliansi strategis komprehensif yang berorientasi masa depan, dan untuk memodernisasi Aliansi secara saling menguntungkan dalam menghadapi lingkungan keamanan regional yang terus berkembang.”
Kekuatan Trilateral
Pengorbanan bersama berbagai generasi anggota militer Jepang, Korea Selatan, dan A.S. telah mencegah terjadinya konflik besar di Asia Timur Laut selama lebih dari tujuh dekade, bahkan di tengah ketegangan strategis yang signifikan.
Jepang dan Korea Selatan merupakan mitra penting bagi keamanan satu sama lain, dan kerja sama trilateral dengan A.S. memperkuat kapabilitas penangkalan dan respons krisis. Koordinasi baru-baru ini dalam bidang pertahanan rudal, pembagian intelijen, dan keterlibatan diplomatik tingkat tinggi menyoroti sinergi yang semakin berkembang di antara ketiga negara demokrasi itu.
Kepala urusan luar negeri ketiga negara bertemu pada Oktober 2025 di Gyeongju, Korea Selatan, untuk “menegaskan bahwa kerja sama trilateral lebih dalam memajukan kepemimpinan ekonomi yang dapat dipercaya di Indo-Pasifik, memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan ekonomi bersama, serta meningkatkan keselamatan, keamanan, dan kemakmuran di Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka,” ungkap Departemen Luar Negeri A.S.
Mereka juga menegaskan kembali komitmen ketiga negara terhadap denuklirisasi penuh Korea Utara serta pemeliharaan perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea melalui dialog dan diplomasi.
Bersama-sama, berbagai aliansi langgeng ini membentuk jangkar strategis bagi Indo-Pasifik. Aliansi ini melindungi jalur perdagangan, menjunjung tinggi norma internasional, dan memberikan stabilitas agar kemakmuran dapat berkembang. Setelah lebih dari 70 tahun, relevansinya terus meningkat, bukti bahwa nilai-nilai bersama, yang didukung oleh komitmen, dapat membentuk kawasan yang lebih aman dan makmur.