Suara News - Berbicara kepada RIA Novosti pada 6 Juli, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Mikhail Galuzin menyatakan bahwa Latvia salah menilai situasi jika mereka percaya dapat berpartisipasi dalam operasi yang menargetkan Moskow tanpa menghadapi konsekuensi. Menurutnya, Rusia memantau dengan cermat semua perkembangan terkait penggunaan drone, serta lokasi yang diyakini terkait dengan pengorganisasian atau koordinasi operasi tersebut.
Diplomat Rusia itu juga mengulangi peringatan sebelumnya dari Dinas Intelijen Luar Negeri Rusia (SVR), yang menyatakan bahwa Ukraina mungkin akan mencoba mengerahkan drone dari negara-negara Baltik untuk mempersingkat waktu yang dibutuhkan untuk mencapai targetnya. Namun, Latvia, Lituania, dan Estonia telah berulang kali membantah informasi ini, menegaskan bahwa mereka tidak mengizinkan penggunaan wilayah udara atau teritorial mereka untuk melakukan serangan terhadap Rusia.
Sementara itu, dari Latvia, Presiden Edgars Rinkēvičs terus menyatakan keprihatinannya tentang potensi peningkatan ketegangan antara Rusia dan NATO dalam waktu dekat. Namun, ia menegaskan bahwa Moskow saat ini tidak memiliki kapasitas militer untuk melancarkan operasi skala besar terhadap negara anggota aliansi mana pun.
Dalam sebuah wawancara dengan Deutsche Welle, Presiden Latvia menekankan bahwa NATO perlu mempertahankan kesiapan untuk semua skenario yang mungkin terjadi. Menurutnya, aliansi tersebut tidak boleh berpuas diri terhadap risiko keamanan, tetapi juga tidak boleh bereaksi dengan rasa takut, karena yang terpenting adalah mempertahankan kemampuan pencegahan yang cukup kuat untuk memastikan stabilitas regional.
Lebih lanjut, Presiden Rinkēvičs juga menyatakan bahwa peningkatan anggaran pertahanan hanya efektif jika disertai dengan kemampuan untuk memproduksi senjata, rudal, dan peralatan militer lain yang diperlukan. Menurut pemimpin Latvia tersebut, banyak negara Eropa akan membutuhkan lebih banyak waktu dan sumber daya untuk memodernisasi angkatan pertahanan mereka, sehingga secara bertahap meningkatkan kemampuan mereka untuk memenuhi persyaratan keamanan dalam konteks baru.
Bapak Rinkēvičs juga mencatat bahwa keamanan Eropa terkait erat dengan perkembangan di Ukraina, dan menegaskan bahwa AS tetap penting bagi kemampuan pertahanan kolektif NATO.
Senada dengan pandangan mengenai penguatan aliansi, Presiden Lithuania Gitanas Nausėda memperingatkan bahwa NATO dapat menghadapi risiko perpecahan internal jika beberapa anggota gagal memenuhi target alokasi 5% dari PDB mereka untuk pertahanan. Menurutnya, menjaga persatuan di antara negara-negara anggota akan sangat penting bagi NATO untuk secara efektif menanggapi tantangan keamanan di masa mendatang.