Australia dan Jepang Perkuat Kerja Sama Pertahanan di Tengah Ketegangan Regional
Internasional

Australia dan Jepang Perkuat Kerja Sama Pertahanan di Tengah Ketegangan Regional

Australia dan Jepang memasuki era baru kerja sama pertahanan yang ditandai dengan meningkatnya keterlibatan militer trilateral dengan Amerika Serikat serta semakin dalamnya keselarasan industri dan strategis. Canberra dan Tokyo, yang telah lama terikat oleh nilai-nilai bersama, tengah memanfaatkan kemitraan mereka untuk meningkatkan penangkalan di tengah lingkungan keamanan yang semakin kompleks, termasuk meningkatnya ketegangan dengan Tiongkok.

Partisipasi perdana Australia dalam Orient Shield pada September 2025 menegaskan adanya momentum yang berkembang dalam kerja sama pertahanan. Latihan yang diselenggarakan Jepang itu, yang meliputi latihan penembakan mortir aktif dan simulasi keadaan darurat medis, melibatkan 200 Prajurit Angkatan Darat Australia, 1.200 personel Pasukan Bela Diri Darat Jepang (JGSDF), dan 700 personel militer A.S.

Latihan itu merupakan “bukti menguatnya ikatan dan nilai-nilai bersama kedua negara dalam iklim global saat ini,” ungkap Letjen Makoto Endo, komandan Angkatan Darat Wilayah Tengah JGSDF, dalam rilis berita. Dia mengatakan bahwa Orient Shield bertujuan “untuk menguji dan menyempurnakan interoperabilitas prosedur kami saat menjalankan operasi gabungan,” yang dikembangkan berdasarkan integrasi komando dari Latihan Yama Sakura.

“Kemitraan trilateral kuat kita merupakan pilar penting keamanan regional, dan krusial bagi upaya penangkalan kolektif di kawasan kita,” ungkap Brigjen Angkatan Darat Australia Louise Martin, komandan Brigade Kesehatan ke-2.

Keterlibatan ini merupakan bagian dari konvergensi strategis di antara Canberra dan Tokyo. Konsultasi ke-12 di antara menteri pertahanan dan menteri luar negeri kedua negara di Tokyo pada awal September 2025 menghasilkan visi komprehensif untuk meningkatkan kerja sama pertahanan. Berbagai hasil utamanya mencakup perluasan kerja sama operasional berdasarkan Perjanjian Akses Timbal Balik (Reciprocal Access Agreement – RAA) bilateral dan penempatan petugas penghubung gabungan, demikian menurut sebuah pernyataan. RAA itu, yang ditandatangani pada Januari 2022, telah memungkinkan lebih dari 40 kegiatan, termasuk partisipasi pertama Australia dalam Orient Shield dan peningkatan keterlibatan Jepang dalam latihan yang berbasis di Australia.

Kekhawatiran bersama atas postur regional Beijing mendorong peningkatan koordinasi di antara Australia dan Jepang, demikian menurut Dan Darling, analis pertahanan di Forecast International yang berkantor pusat di A.S. “Mereka tengah mempersiapkan militer mereka untuk peningkatan kapabilitas serangan jarak jauh yang idealnya akan memungkinkan militer mereka menangkal agresor dari jarak jauh sebelum agresor itu sampai ke wilayah pantai mereka,” ungkapnya kepada FORUM.

Sementara itu, pemilihan Australia terhadap kapal fregat kelas Mogami yang telah ditingkatkan kemampuannya dari Jepang sebagai kapal perang serba guna berikutnya — yang diumumkan selama pembicaraan tingkat menteri baru-baru ini — merupakan pencapaian penting dalam kerja sama industri pertahanan. “Pemilihan ini membantu Australia meningkatkan kapasitas kapal perang angkatan lautnya secara lebih cepat dan membantu memberikan dorongan bagi sektor industri pertahanan Jepang itu sendiri,” ungkap Dan Darling.

Ketiga negara itu juga berkolaborasi dalam mengembangkan inovasi penggunaan ganda yang memiliki aplikasi baik untuk keperluan militer maupun sipil. Bersama Britania Raya dan A.S., mereka menguji coba berbagai kapabilitas canggih selama Latihan Talisman Sabre di Australia pada pertengahan 2025, termasuk sistem otonom bawah air, demikian menurut pernyataan bersama para menteri. Para menteri itu juga menegaskan rencana untuk memperluas inovasi melalui penelitian gabungan di bidang material kedirgantaraan dan pesawat tempur.

Jepang mengerahkan kontingen terbesarnya hingga saat ini ke Talisman Sabre, yang dihadiri lebih dari 40.000 personel dari 19 negara. Sementara itu, Jepang menjadi tuan rumah bagi pasukan Australia dan A.S. untuk latihan tempur udara selama Latihan Bushido Guardian di Pangkalan Udara Misawa pada September dan Oktober 2025.

Pola keterlibatan Australia-Jepang menyoroti perubahan yang disengaja, demikian ungkap Dan Darling. “Kedua negara telah semakin dekat selama 15 tahun terakhir ini,” ungkapnya. “Keduanya merasa khawatir dengan upaya Beijing untuk mengendalikan — melalui kehadiran militer, paksaan, atau penggunaan kekuatan — wilayah di luar rangkaian pulau pertamanya.”

You can share this post!