Australia, Indonesia, dan PNG Gelar Dialog Pertahanan Trilateral Pertama
Internasional

Australia, Indonesia, dan PNG Gelar Dialog Pertahanan Trilateral Pertama

Staf FORUM

Australia, Indonesia, dan Papua Nugini (PNG) mengadakan pertemuan menteri pertahanan trilateral pertama mereka pada Desember 2025. Pertemuan bersejarah di Port Moresby, PNG, itu mencerminkan semakin meningkatnya pengakuan bahwa kawasan, tantangan, dan kepentingan strategis bersama mereka menuntut respons kolaboratif.

Menteri Pertahanan Australia, Richard Marles, Menteri Pertahanan Indonesia, Sjafrie Sjamsoeddin, dan Menteri Pertahanan PNG, Billy Joseph, sepakat untuk mengadakan forum itu setiap tahunnya. Ketiga pemimpin itu menggambarkan kemitraan trilateral ini sebagai “dibangun atas dasar saling menghormati, kepentingan bersama, dan visi kolektif untuk Indo-Pasifik yang aman dan makmur.” Mereka menekankan bahwa “luasnya keterlibatan militer” ketiga negara itu memperkuat kerja sama di antara angkatan bersenjata mereka.

Mereka membahas peluang untuk berkolaborasi di berbagai bidang utama termasuk kesadaran ranah maritim, bantuan kemanusiaan, dan tanggap bencana, serta praktik terbaik dalam penerbangan.

Para ahli mengatakan kedekatan geografis ketiga negara — dengan PNG berada di antara Australia dan Indonesia, yang menjembatani Samudra Hindia dan Pasifik — memungkinkan tercapainya kerja sama untuk memperkuat infrastruktur keamanan regional dengan cara yang lebih efektif daripada jika mereka melakukannya sendiri-sendiri.

Dialog trilateral itu dibangun berdasarkan perjanjian keamanan yang baru-baru ini dibuat. Pada Oktober 2025, PNG dan Australia menandatangani Perjanjian Pukpuk, pakta pertahanan timbal balik yang memformalisasikan hubungan pertahanan mereka yang telah lama terjalin. Australia dan Indonesia menyelesaikan negosiasi pada bulan November untuk Perjanjian Keamanan Bersama mereka, yang mewajibkan Canberra dan Jakarta untuk melakukan konsultasi tingkat tinggi secara berkala mengenai masalah keamanan serta untuk “mengidentifikasi dan melaksanakan kegiatan keamanan yang saling menguntungkan.” Perjanjian itu juga mewajibkan Australia dan Indonesia untuk mempertimbangkan respons gabungan jika salah satu dari mereka diserang.

Sementara itu, Indonesia dan PNG telah memperdalam ikatan keamanan dan membahas percepatan perjanjian kerja sama pertahanan, demikian yang dilaporkan kantor berita Antara yang berkantor pusat di Jakarta.

“Dalam menghadapi berbagai tantangan dan situasi itu, sangat tepat dan sudah waktunya Papua Nugini, Australia, dan Indonesia mengadakan pertemuan bersama di tingkat menteri,” ungkap Billy Joseph. “Pertemuan trilateral ini memungkinkan kita untuk memperdalam kepercayaan, menyelaraskan pendekatan kita, dan meningkatkan koordinasi dalam berbagai masalah yang memengaruhi kita semua, termasuk pengelolaan perbatasan, keamanan maritim, bantuan kemanusiaan dan tanggap bencana, pengembangan kapabilitas pertahanan, serta perdamaian dan stabilitas regional yang lebih luas.

“Diskusi kita hari ini akan meletakkan dasar bagi hubungan trilateral yang lebih kuat — hubungan yang dibangun atas dasar transparansi, tanggung jawab bersama, dan saling menguntungkan.”

Para pengamat mengatakan bahwa dialog trilateral dapat menghubungkan perjanjian bilateral yang tumpang tindih untuk kerangka kerja regional yang memungkinkan ketiga negara itu menyelaraskan strategi, kapabilitas, dan respons pertahanan.

Richard Marles memuji “kepercayaan strategis yang mendalam di antara ketiga negara kita” dan menyebutkan manfaat bagi masing-masing negara.

Bagi PNG, forum ini menunjukkan adanya dukungan keamanan nasional dari negara-negara tetangga terbesarnya. Indonesia memperoleh komitmen Indo-Pasifik untuk integritas wilayahnya. “Dan dari perspektif Australia, kehadiran dua negara tetangga utara kita di meja perundingan sangat signifikan dalam hal memberikan keamanan di sepanjang jalur masuk utara Australia. Hal ini menyentuh inti fundamental identitas bangsa kita dan keamanan benua kita,” ungkap Richard Marles.

You can share this post!