ilustrasi Friedrich Nietzsche yang dililit ular dengan nuansa gelap, menggambarkan pergulatan filosofisnya
A A A
Oleh: Eko Wahyu Pramono
SUARA UTAMA – Surabaya, 3 Desember 2025 – Friedrich Nietzsche mungkin bukan filsuf yang mudah dipahami, tetapi gagasannya telah mengguncang fondasi peradaban Barat selama lebih dari satu abad. Ungkapan terkenalnya, “Tuhan telah mati, Tuhan tetap mati, dan kitalah yang membunuhnya,” bukan sekadar kalimat provokatif, melainkan diagnosis tajam terhadap perubahan besar dalam moralitas dan pemikiran manusia modern.
Nietzsche lahir pada 15 Oktober 1844 di Röcken, Prusia, dari keluarga religius Lutheran. Ayahnya seorang pendeta yang wafat ketika Nietzsche masih berusia lima tahun. Kehilangan itu, ditambah kondisi fisiknya yang rapuh dan kesehatan yang sering menurun, membentuk pribadi yang sensitif sekaligus tajam dalam mengamati fenomena moral dan religius.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejak muda, Nietzsche banyak membaca dan menantang pemikiran para filsuf besar sebelum masanya. Namun ia tidak puas dengan jawaban-jawaban yang diterima secara dogmatis. Ia melihat bahwa dunia sedang berubah, dan manusia membutuhkan keberanian baru untuk menghadapi kenyataan.
BACA JUGA : SUARA UTAMA Sumbar: Tolok Ukur Keberhasilan Nagari Mangaji dari Honor Guru Mangaji
Adegan “ Madman ” dan Kelahiran Sebuah Kritik Besar
Pada 1882, Nietzsche menerbitkan karya revolusionernya The Gay Science. Di dalamnya terdapat adegan terkenal tentang seorang madman yang berlari ke pasar sambil membawa obor dan berteriak bahwa “Tuhan telah mati.” Adegan itu bukan sekadar satir; ia adalah metafora tentang hilangnya otoritas moral tradisional di masyarakat Barat.
Sains, rasionalitas, dan modernitas perlahan menggantikan posisi agama sebagai penuntun hidup. Nietzsche mengingatkan bahwa tanpa nilai absolut, manusia berisiko kehilangan arah, menjadi lemah, atau terjebak nihilisme.
Namun Nietzsche tidak mengajak manusia menjadi amoral. Ia justru menuntut manusia menciptakan nilai-nilai baru, bertanggung jawab atas hidupnya sendiri, dan tidak lagi bergantung pada dogma. Di sinilah konsep Übermensch, atau manusia unggul, lahir sebuah figur yang berani menghadapi dunia tanpa ilusi.
Kontroversi dan Kritik
Penerbitan The Gay Science memicu perdebatan luas. Banyak kalangan menuduh Nietzsche radikal, nihilistik, bahkan berbahaya. Gagasannya dianggap menyerang agama serta moralitas yang telah mengikat masyarakat selama berabad-abad.
BACA JUGA : Kedaulatan Pangan dan Masa Depan Indonesia, Refleksi Kedaulatan Negara di Era Ketidakpastian Global
Namun Nietzsche tidak menulis untuk menyenangkan semua orang. Ia menulis untuk mengguncang kesadaran manusia.
Tragedi di Turin dan Keruntuhan Mental
Di puncak kejeniusannya, kehidupan pribadi Nietzsche justru dipenuhi penderitaan fisik. Ia sering mengalami migrain hebat, gangguan penglihatan, dan insomnia. Ketegangan antara tubuh yang rapuh dan ide-ide yang berapi-api menjadi ironi yang menyayat.
Pada 3 Januari 1889 di Turin, dua polisi menemukan Nietzsche membuat kegaduhan publik. Kisah populer menyebut ia memeluk leher seekor kuda yang sedang dicambuk sebelum jatuh pingsan. Setelah kejadian itu, Nietzsche mengalami gangguan mental berat dan menghabiskan sisa hidupnya dalam kondisi tidak stabil.
Ia sempat mengirimkan surat-surat pendek yang dikenal sebagai Wahnbriefe catatan penuh delirium yang menjadi penanda tragis runtuhnya sang filsuf besar.
Relevansi Abadi Ungkapan “Tuhan Telah Mati”
Makna kutipan itu masih relevan hingga hari ini. Nietzsche bukan ingin manusia membuang moralitas; ia ingin manusia menyadari bahwa nilai lama tidak lagi cukup untuk menjawab tantangan zaman modern.
BACA JUGA : Hari Pers Nasional 2026, Suara Utama Konsisten Mengabarkan Kebenaran untuk Publik
Kebebasan tanpa arah bisa berbahaya, tetapi keberanian menciptakan nilai baru adalah jalan menuju kedewasaan manusia.
Nietzsche mengajarkan bahwa berpikir sendiri adalah bentuk keberanian paling tinggi. Ia membuktikan bahwa satu orang yang berani menggugat dogma bisa mengubah arah sejarah.
Refleksi Penulis
Dalam pandangan saya, Nietzsche adalah simbol bagi individu yang berani mempertanyakan dunia, menghadapi ketakutannya, dan menciptakan makna hidup tanpa bergantung pada ilusi. Kalimat “Tuhan telah mati” bukan penolakan terhadap agama, melainkan seruan agar manusia hidup dengan kesadaran penuh, kreativitas, dan tanggung jawab pribadi.
Kehidupan Nietzsche mungkin berakhir dalam keterbatasan, namun ide-idenya justru menunjukkan bahwa kekuatan berpikir tidak selalu lahir dari tubuh yang kuat, melainkan dari keberanian melampaui batas-batas diri.
Catatan Redaksi: Tulisan ini adalah opini penulis dan tidak mewakili sikap redaksi. SUARA UTAMA membuka ruang hak jawab bagi siapa pun yang berkepentingan dengan materi artikel ini.
Penulis : Odie Priambodo
Editor : Andre Hariyanto
Sumber Berita: Wartawan Suara Utama
Berita Terkait
Perang Menguburkan Iran di Piala Dunia 2026
Jurus Dewa Mabuk MBG
Ramadan Tersisa 10 Hari: Perkuat Ibadah Menjemput Idul Fitri 2026
300 Paket Takjil Dibagikan di Jalan Sam Ratulangi Bitung, Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bitung Turun Langsung Sapa Warga.
Ramadhan Sebagai Momentum Refleksi Spiritual Dan Penguatan Solidaritas Sosial
Ilusi Trump Mengalahkan Iran
Kedaulatan Pangan dan Masa Depan Indonesia, Refleksi Kedaulatan Negara di Era Ketidakpastian Global
Aliansi Umat Islam Babel Geruduk DPRD, Tolak Keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace
Berita ini 13 kali dibaca
Tag : eko wahyu pramono filsafat Barat filsafat eksistensial filsafat Jerman Friedrich Nietzsche God is dead kebebasan manusia krisis moral kritik agama kritik moral madman manusia unggul modernitas moralitas modern nihilisme pemikiran modern pemikiran Nietzsche penciptaan nilai baru peradaban Barat rasionalitas runtuhnya nilai tradisional sejarah filsafat suara utama tanggung jawab manusia The Gay Science tragedi Turin Tuhan telah mati Übermensch Wahnbriefe
Berita Terbaru
Berita Utama
Pemkab Dogiyai Resmi Tutup Musrenbang RKPD 2026.
Nasional
Warga Maron Kidul Sekitar Lokasi Beberapa Gudang Transit Paket Yang Diduga Ilegal Akhir Buka Suara, CSR Ikut Jadi Sorotan
Nasional
Beberapa Gudang Transit Paket Desa Maron Kidul Diduga Ilegal, Dinilai Berpotensi Mengganggu Aktivitas Pengendara Lain
Nasional
Polres Probolinggo Siapkan Pos Pelayanan di Exit Tol Ruas Tol Prosiwangi
Nasional
Viral di Media Sosial, Dapur SPPG Desa Wonorejo Terindikasi Dugaan Menyalahi Aturan
Berita Utama
Operasi Ketupat Menumbing 2026: Sinergi Lintas Sektoral Demi Mudik Aman di Kepulauan Bangka Belitung