JAKARTA – Gaya komunikasi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa belakangan menjadi sorotan publik. Sejumlah pihak menilai cara bicaranya yang kerap disebut bergaya “koboi” membuat program pemerintah lebih mudah dipahami karena disampaikan dengan bahasa sederhana. Namun, gaya tersebut juga dinilai menyimpan risiko memunculkan polemik.
Pakar kajian budaya dan media Universitas Muhammadiyah Surabaya, Radius Setiyawan, menilai komunikasi Purbaya menunjukkan ciri dynamic style: lugas, cepat, dan langsung pada inti persoalan. Radius mengatakan, dalam perkembangannya Purbaya terlihat semakin mampu merespons isu makroekonomi, perbankan, hingga moneter dengan bahasa yang sederhana dan mudah diterima publik.
Radius menekankan, dalam komunikasi politik, keberhasilan penyampaian pesan tidak hanya bertumpu pada retorika, melainkan juga pemahaman terhadap situasi sosial. Ia mengingatkan, ketika publik sedang marah atau kecewa, pejabat negara perlu lebih berhati-hati memilih kata agar tidak memunculkan kesan diskriminatif atau membuat masyarakat merasa diabaikan.
Radius juga menyampaikan pesan kepada jajaran menteri baru Kabinet Merah Putih bahwa komunikasi publik kini sama pentingnya dengan kinerja teknis. Menurutnya, masyarakat menuntut komunikasi yang sederhana tetapi tetap substansial.
Ia mengingatkan agar kebijakan yang dinilai baik tidak gagal diterima publik hanya karena cara penyampaiannya keliru. Karena itu, menteri diminta memahami audiens, kondisi sosial, serta memilih bahasa yang tepat.
Dalam literatur komunikasi organisasi, dynamic style telah lama dibahas sebagai gaya komunikasi yang cenderung agresif dan berorientasi pada tindakan. Mengutip penelitian Evi Zahara berjudul Peranan Komunikasi Organisasi Bagi Pimpinan Organisasi (2018), gaya ini dianggap efektif untuk mengatasi persoalan kritis, dengan catatan karyawan atau bawahan memiliki kemampuan yang memadai untuk menyelesaikan masalah.
Penelitian lain, Analisis Gaya Komunikasi Pimpinan dalam Motivasi dan Kinerja Karyawan: Studi Kasus PT. Arthawenasakti Gemilang (2024) oleh Amanda Eka Nur Oktaviani, juga menemukan bahwa pimpinan dengan gaya komunikasi dinamis dapat memotivasi karyawan melalui diskusi konstruktif, yang berdampak positif pada kinerja.
Meski memiliki sisi efektif, Radius menilai gaya komunikasi dinamis seperti yang diperlihatkan Purbaya perlu diimbangi dengan kepekaan sosial. Tujuannya agar pesan yang disampaikan tidak hanya mendorong kinerja di internal, tetapi juga membangun kepercayaan publik secara berkelanjutan.