Indonesia dan Malaysia tengah mengembangkan kemitraan pertahanan yang lebih terstruktur, yang ditunjukkan oleh forum baru-baru ini yang dipimpin oleh para pemimpin militer mereka. Acara itu menegaskan semakin matangnya ikatan kelembagaan dan kepentingan bersama kedua negara Asia Tenggara itu di tengah perubahan lanskap keamanan.
Pertemuan komite Malindo yang diadakan setiap dua tahun sekali, pertama kali diselenggarakan pada tahun 2006, telah berkembang menjadi saluran utama untuk diplomasi pertahanan dan dialog keamanan regional. Pertemuan pada November 2025 itu menekankan transparansi, interoperabilitas, dan stabilitas.
“Kedua negara tetangga ini harus menunjukkan bahwa tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan jika kita memahami transparansi, menerapkan langkah-langkah membangun kepercayaan, dan menunjukkan rasa saling menghormati,” ungkap Kepala Angkatan Bersenjata Malaysia Jenderal Datuk Mohd Nizam Jaffar setelah pertemuan di Jakarta, yang dipimpin bersama oleh Jenderal Agus Subiyanto, Panglima Tentara Nasional Indonesia.
Diskusi itu mencakup patroli perbatasan terkoordinasi, keamanan maritim dan udara, latihan gabungan, dan ancaman nontradisional seperti penyelundupan, penangkapan ikan ilegal, dan risiko siber. Topik yang dibahas juga mencakup usulan kolaborasi yang melibatkan militer dan kepolisian nasional masing-masing negara.
“Kemajuan signifikan terutama terlihat dalam operasi gabungan, latihan militer gabungan, patroli perbatasan terkoordinasi, dan kerja sama dalam keamanan maritim dan udara,” ungkap analis Kementerian Pertahanan Indonesia, Pudji Astuti, kepada FORUM.
Upaya semacam itu sangat penting untuk mengatasi kejahatan transnasional dan tantangan lainnya. Meningkatnya migrasi lintas batas, misalnya, membutuhkan “koordinasi yang lebih intensif dan efektif” di berbagai area strategis, demikian ungkap Dr. Jelang Ramadhan dari Universitas Indonesia kepada FORUM.
Pertemuan Malindo terbaru itu merupakan “isyarat bahwa hubungan pertahanan Indonesia-Malaysia telah memasuki fase yang lebih dalam dan terstruktur serta responsif terhadap tantangan regional,” demikian ungkap Khairul Fahmi, salah satu pendiri Institute for Security and Strategic Studies Indonesia, kepada FORUM. Dia menyebutkan latihan gabungan, pembagian informasi, dan keamanan perbatasan sebagai area fokus.
Mohd Nizam Jaffar mengatakan bahwa kemitraan militer kedua negara yang sudah lama terjalin harus terus diperkuat, dengan masing-masing pasukan saling memperkuat dan membimbing satu sama lainnya. Dia mengatakan kerja sama bilateral yang lebih mendalam sangat penting untuk menjaga stabilitas regional.
Teuku Rezasyah, dosen hubungan internasional di Universitas Padjadjaran, mengatakan kerja sama juga memperkuat kemampuan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), dengan Indonesia dan Malaysia sebagai anggota pendirinya, untuk mengelola ancaman tradisional dan nontradisional.
Melalui forum Malindo, “Indonesia dan Malaysia telah membangun tingkat saling percaya yang tinggi, sehingga memungkinkan mereka untuk terlibat dalam dialog secara terbuka dan jujur,” ungkapnya kepada FORUM.
Gusty Da Costa merupakan kontributor FORUM yang berbasis di Jakarta, Indonesia.