Pentingnya Memahami Risiko Olahraga Berlebih dan Serangan Jantung Menurut Dosen UNAIR
Denyut Publik

Pentingnya Memahami Risiko Olahraga Berlebih dan Serangan Jantung Menurut Dosen UNAIR

Serangan jantung yang menimpa entertainer Ashraf Sinclair baru-baru ini mengundang perhatian publik mengenai risiko kesehatan yang mungkin muncul akibat olahraga berlebihan. Dr. Bambang Purwanto, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR), menjelaskan potensi bahaya yang dapat timbul ketika seseorang berolahraga tanpa persiapan yang memadai.

Menurut Dr. Bambang, saat berolahraga, beban yang seharusnya ditangani oleh otot kadang-kadang dialihkan ke jantung, terutama ketika aktivitas fisik yang dilakukan berada di luar kemampuan tubuh. "Ketika kita berolahraga, seharusnya otot kita yang bekerja, bukan jantung. Namun, jika beban terlalu berat, jantung akan menerima dampaknya," ujarnya saat ditemui di Departemen Faal FK UNAIR.

Pentingnya Memperhatikan Denyut Jantung

Dr. Bambang menjelaskan bahwa setiap aktivitas yang berat pada jantung dapat dikenali melalui kenaikan denyut jantung yang cepat. Normalnya, denyut jantung seseorang berkisar antara 60 hingga 100 detakan per menit. "Bukan hanya olahraga, aktivitas non-fisik seperti menonton film horor atau persiapan ujian juga dapat meningkatkan denyut jantung," tambahnya.

Ia menekankan bahwa perubahan fisiologis pada tubuh akibat latihan biasanya mulai terlihat setelah enam minggu. Oleh karena itu, tidak realistis untuk mengharapkan hasil instan dari olahraga.

Langkah Antisipasi Terhadap Serangan Jantung

Serangan jantung dapat dicegah dengan beberapa langkah pencegahan. Pertama, penting untuk memantau denyut jantung selama aktivitas fisik. Jika denyut jantung meningkat drastis saat berolahraga, disarankan untuk segera beristirahat.

Selain itu, pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) juga berguna untuk menilai kondisi jantung dan mendeteksi adanya penyumbatan pada pembuluh darah. Dr. Bambang juga menyarankan untuk rutin mengukur denyut nadi di pagi hari. "Jika denyut nadi saat bangun tidur di atas 100, sebaiknya hindari aktivitas berat pada hari itu," ujarnya.

Pemahaman Tentang Kapasitas Denyut Jantung

Kapasitas denyut jantung maksimal dapat dihitung dengan mengurangi angka 220 dengan usia seseorang. Sebagai contoh, bagi individu berusia 20 tahun, denyut jantung maksimal yang aman adalah 200 kali per menit. Dr. Bambang menyarankan untuk tidak melampaui batas ini guna menghindari risiko kesehatan.

Nyeri dada setelah berolahraga juga merupakan tanda yang perlu diwaspadai. Jika mengalami gejala tersebut, disarankan untuk beristirahat dengan posisi nyaman, mengangkat kaki lebih tinggi dari jantung, dan segera mencari pertolongan medis. Sebagai pedoman, seseorang sebaiknya beraktivitas fisik hingga 85 persen dari denyut jantung maksimal, meskipun kondisi ini bisa bervariasi untuk atlet profesional.

Dengan memahami batasan dan memperhatikan kondisi tubuh, risiko serangan jantung akibat olahraga berlebihan dapat diminimalisasi.

You can share this post!