Perkuatan Kerja Sama Pertahanan Australia-Indonesia Hadapi Tantangan Keamanan Regional
Internasional

Perkuatan Kerja Sama Pertahanan Australia-Indonesia Hadapi Tantangan Keamanan Regional

Gusty Da Costa

Latihan Wirra Jaya baru-baru ini menyoroti semakin dalamnya hubungan pertahanan Australia-Indonesia dan transformasi keterlibatan militer kedua negara.

Sekitar 200 personel dari Angkatan Darat Indonesia dan Pasukan Pertahanan Australia (Australian Defence Force – ADF) melakukan berbagai latihan termasuk pertempuran perkotaan di Barak Robertson di Northern Territory Australia. Pasukan kedua negara mengerahkan Kendaraan Mobilitas Terlindungi Bushmaster, alutsista andalan mobilitas taktis ADF.

Tujuan utama latihan ini adalah “meningkatkan interoperabilitas dan kapabilitas taktis Prajurit dari kedua angkatan darat,” ungkap analis pertahanan Indonesia, Beni Sukadis, kepada FORUM. Keterlibatan itu menghasilkan pembaruan prosedur operasi standar, metrik kesiapan, dan praktik koordinasi tingkat brigade untuk pengerahan cepat dan perencanaan tempur terpadu.

Kedalaman operasional mencerminkan transformasi yang dimungkinkan oleh perjanjian kerja sama pertahanan (defense cooperation agreement – DCA) bilateral yang ditandatangani pada Agustus 2024. DCA itu menetapkan kerangka kerja hukum bagi militer kedua negara untuk terlibat dalam kegiatan gabungan yang lebih kompleks, beroperasi dari wilayah satu sama lainnya, dan memperluas kerja sama di bidang keamanan maritim, logistik, pendidikan, dan bantuan bencana. Perjanjian itu merupakan komitmen timbal balik untuk menjunjung tinggi stabilitas regional dan tatanan berbasis aturan, demikian ungkap Departemen Pertahanan Australia.

Manfaat DCA pertama kalinya disorot selama Keris Woomera 2024, “kegiatan gabungan bersama terbesar dalam sejarah terkini” kedua negara. Berbagai latihan itu meliputi operasi amfibi, komponen penembakan dengan amunisi aktif, dan skenario evakuasi nonkombatan di kedua negara, yang menunjukkan skala dan ambisi yang mungkin dilakukan berdasarkan peningkatan hubungan itu.

Seiring dengan semakin kompleksnya dinamika geopolitik di Indo-Pasifik, para analis mengatakan kemitraan Australia-Indonesia siap memainkan peran yang semakin menonjol dalam arsitektur keamanan regional — yang dibangun atas dasar interoperabilitas, kepentingan bersama, dan keterlibatan berkelanjutan. Canberra dan Jakarta juga tengah memperluas ikatan pertahanan dengan Sekutu dan Mitra lainnya seperti Amerika Serikat, dengan kedua negara itu menjadi tuan rumah latihan multinasional utama, termasuk Super Garuda Shield di Indonesia dan Talisman Sabre di Australia.

Wirra Jaya 2025 menekankan operasi perkotaan seperti pengamanan bangunan, serta evakuasi massal dan koordinasi penanganan korban. Latihan itu “diharapkan menghasilkan modul pelatihan taktis, daftar periksa operasi perkotaan, dan skenario uji coba yang dapat diulang untuk pelatihan tingkat lanjut,” yang akan membentuk perencanaan operasional, demikian ungkap Beni Sukadis.

Kelompok Pengawasan Pasukan Regional Australia melakukan demonstrasi untuk menyempurnakan pemantauan perbatasan gabungan, serta kapabilitas intelijen, pengawasan, dan pengintaian (intelligence, surveillance and reconnaissance – ISR). Sesi itu mencakup “peta cakupan ISR, protokol deteksi dini, [dan] model patroli respons,” yang memiliki aplikasi dalam pengawasan maritim dan teritorial regional, demikian ungkap Beni Sukadis.

Latihan itu juga membahas ancaman nontradisional yang semakin penting di Indo-Pasifik, seperti tanggap bencana, pertahanan siber, dan penanggulangan informasi yang dimanipulasi. “Hasil yang diharapkan adalah terciptanya mekanisme kerja sama antarlembaga yang kuat, peningkatan kewaspadaan terhadap ancaman multidimensi, dan perancangan prosedur gabungan yang dapat diterapkan dalam operasi bantuan kemanusiaan dan keamanan siber regional,” ungkap Beni Sukadis.

Tema-tema itu tercermin dalam Latihan Bhakti Kanyini di Indonesia pada Oktober 2025, yang mempertemukan berbagai badan tanggap bencana militer dan sipil dari kedua negara, bersama dengan berbagai mitra seperti Timor-Leste dan A.S. Latihan itu memperkuat pergeseran menuju pendekatan menyeluruh di berbagai kalangan pemerintah dan multinasional terhadap respons krisis regional.

Keterlibatan seperti Wirra Jaya menggambarkan meluasnya ikatan kelembagaan dan operasional di antara Australia dan Indonesia. “Kepercayaan ini merupakan fondasi utama untuk membangun stabilitas regional dan memperkuat kerja sama keamanan regional di Indo-Pasifik,” ungkap Beni Sukadis.

Gusty Da Costa merupakan kontributor FORUM yang berbasis di Jakarta, Indonesia.

You can share this post!