Sikap Warga Greenland Terhadap Usulan Menganeksasi oleh Amerika Serikat
Suara Warga

Sikap Warga Greenland Terhadap Usulan Menganeksasi oleh Amerika Serikat

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mengemukakan rencana untuk menganeksasi Greenland, wilayah semiotonom yang berada di bawah Kerajaan Denmark. Pernyataan ini langsung menimbulkan reaksi keras dari pemerintah Denmark dan pemerintah daerah Greenland.

Dalam konferensi pers, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat "memerlukan Greenland" untuk kepentingan keamanan nasional, menekankan nilai strategis pulau tersebut di kawasan Arktik, termasuk posisinya dalam sistem pertahanan dan potensi kekayaan mineral yang dimiliki. Rencana ini muncul setelah operasi militer besar-besaran di Venezuela, yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro pada Januari 2026.

Situasi ini memunculkan kekhawatiran bahwa Washington mungkin mempertimbangkan opsi penggunaan kekuatan militer untuk menganeksasi Greenland, sebuah langkah yang sebelumnya juga tidak sepenuhnya dikesampingkan oleh Trump.

Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, menyatakan bahwa serangan terhadap Greenland akan merusak aliansi transatlantik dan berpotensi mengakhiri keanggotaan dalam NATO. "Semua hal, termasuk NATO dan keamanan yang terjamin sejak berakhirnya Perang Dunia II, akan terancam," kata Frederiksen.

Suara Warga Greenland

Polemik mengenai apakah Greenland sebaiknya bergabung dengan Amerika Serikat atau tetap bersama Denmark juga mengangkat pertanyaan penting: bagaimana pandangan warga Greenland sendiri? Sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh Verian untuk media Denmark, Berlingske, dan media Greenland, Sermitsiaq, menunjukkan bahwa mayoritas warga Greenland menolak ide untuk menjadi bagian dari Amerika Serikat.

Jajak pendapat yang dilakukan pada Januari 2025 ini melibatkan 497 responden berusia 18 tahun ke atas. Hasilnya menunjukkan bahwa 85% responden menolak untuk keluar dari Kerajaan Denmark dan bergabung dengan Amerika Serikat, sementara hanya 6% yang setuju, dan 9% tidak memberikan jawaban pasti.

Penolakan tersebut mencerminkan kuatnya identitas nasional dan hubungan historis warga Greenland dengan Denmark. Dengan populasi sekitar 57.000 jiwa, Greenland telah menikmati otonomi luas sejak 1979, meskipun urusan luar negeri dan pertahanan masih berada di bawah kendali Denmark.

Dukungan Terhadap Kemerdekaan

Menariknya, dukungan terhadap kemerdekaan penuh dari Denmark lebih tinggi daripada dukungan untuk bergabung dengan Amerika Serikat. Dalam survei yang sama, 56% responden menyatakan bahwa mereka akan memilih untuk merdeka jika referendum diadakan saat ini, sementara 28% menolak, dan 17% tidak memberikan jawaban pasti.

Namun, dukungan terhadap kemerdekaan ini dipengaruhi oleh faktor ekonomi. Sebanyak 45% responden mengungkapkan bahwa mereka tidak akan mendukung kemerdekaan jika standar hidup mereka menurun. Sebagian besar responden juga menginginkan agar dukungan finansial dari Denmark terus berlanjut, meskipun Greenland merdeka sepenuhnya.

You can share this post!