Tantangan Hukum Indonesia: Antara Keadilan dan Kekuasaan
Suara Utama

Tantangan Hukum Indonesia: Antara Keadilan dan Kekuasaan

Foto ilustrasi

A A A

Oleh: Dr. Firman Tobing

Akademisi/Anggota Pusat Analisa Kajian Hukum & Ekonomi Indonesia

SUARA UTAMA, Riau – Salah satu ciri krisis negara hukum bukanlah ketiadaan aturan, melainkan ketika hukum kehilangan fungsi korektifnya terhadap kekuasaan. Dalam situasi semacam ini, hukum tetap berjalan secara prosedural, lembaga tetap bekerja, dan putusan tetap dibacakan, namun keadilan justru semakin sulit dirasakan. Indonesia hari ini tengah menghadapi ujian serius tersebut, apakah hukum masih berfungsi sebagai pembatas kekuasaan, atau telah bergeser menjadi instrumen yang membenarkannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Secara konstitusional, Indonesia menyatakankan diri sebagai negara hukum sebagaimana tertuang dalam Pasal 1 Ayat (3) UUD 1945. Namun dalam praktik mutakhir, berbagai peristiwa hukum yang berdampak luas pada demokrasi dan tata kelola kekuasaan memunculkan kegelisahan publik, seperti putusan Mahkamah Konstitusi terkait perubahan syarat usia calon kepala daerah dan calon presiden/wakil presiden, yang secara langsung memengaruhi konfigurasi politik nasional. Putusan tersebut tidak hanya berdampak pada teknis kepemiluan, tetapi juga memunculkan perdebatan serius mengenai independensi lembaga peradilan, etika kekuasaan, dan fungsi Mahkamah Konstitusi sebagai penjaga konstitusi. Ketika proses hukum dipersepsikan lebih sibuk menjaga legalitas formal ketimbang menjawab keadilan substantif (keadilan yang hidup di tengah masyarakat), maka negara hukum sesungguhnya sedang berada di persimpangan jalan yang menentukan.

BACA JUGA : Ustadz Drs. H. Mahmudin Ahmad, M.Pd.: Idul Fitri Sebagai Hari Kemenangan dan Pemaafan

Dalam teori klasik Rule of Law, A.V. Dicey menegaskan tiga pilar utama negara hukum antara lain supremasi hukum, persamaan di hadapan hukum, dan perlindungan hak warga negara melalui peradilan yang independen. Supremasi hukum menuntut agar kekuasaan tunduk pada hukum, bukan sebaliknya. Persamaan di hadapan hukum menolak perlakuan istimewa berdasarkan status politik atau ekonomi. Sementara independensi peradilan menjadi syarat mutlak agar hukum dapat menjalankan fungsi korektif terhadap kekuasaan. Jika prinsip-prinsip ini dijadikan ukuran, maka tantangan negara hukum Indonesia saat ini bukan terletak pada kekurangan aturan, melainkan pada penyimpangan praktik. Penegakan hukum yang terasa selektif dan putusan yang minim sensitivitas etika publik menunjukkan adanya jarak antara hukum sebagai norma dan hukum sebagai keadilan. Negara hukum tetap hidup secara formal, tetapi mengalami degradasi secara substansial.

Erosi Kepercayaan Publik

BACA JUGA : PETI Lubuk Birah Menggila, Diduga Libatkan Oknum Kades dan Aparat Desa, Akankah Polda Jambi Turun Tangan?

Salah satu faktor yang tidak dapat diabaikan dalam suatu negara hukum adalah kepercayaan publik yang merupakan fondasi tak tertulis dari negara hukum itu sendiri. Tanpa adanya kepercayaan, hukum hanya menjadi teks administratif dan aparat hanya simbol kekuasaan. Ketika masyarakat mulai meragukan independensi proses hukum, maka kepatuhan terhadap hukum tidak lagi lahir dari kesadaran, melainkan dari rasa takut atau keterpaksaan. Harus diakui Perdebatan publik yang terjadi terkait sejumlah putusan hukum strategis dan penanganan perkara besar mencerminkan terjadinya erosi kepercayaan tersebut. Erosi bukan semata karena hasil putusan, melainkan karena proses dan konteksnya yang dinilai tidak sejalan dengan rasa keadilan publik. Dalam jangka panjang, kondisi ini berbahaya karena membuka ruang bagi apatisme hukum dan delegitimasi institusi negara. Oleh karena itu perlu untuk mengembalikan hukum sebagai panglima, yang membutuhkan adanya keberanian politik untuk menjadikan hukum benar-benar independen, serta melaksanakan reformasi etik yang serius di tubuh para penegak hukum. Tanpa integritas, reformasi kelembagaan hanya menjadi kosmetik. Tanpa keberanian moral, hukum akan selalu kalah oleh kekuasaan.

BACA JUGA : Pesta Kembang Api di Langit Malindo Di Malam Takbiran Idul Fitri 1947 H.

Negara hukum tidak akan runtuh karena ketiadaan undang-undang, melainkan karena absennya keberanian untuk menegakkan keadilan. Persimpangan itu kini nyata di hadapan kita. Arah yang dipilih hari ini akan menentukan apakah hukum tetap menjadi fondasi demokrasi, atau sekadar aksesoris kekuasaan. Dalam negara hukum, keraguan bukan pilihan, karena keraguan adalah awal dari kemunduran hukum itu sendiri. Dan pada akhirnya negara hukum tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan perangkat peraturan, tetapi oleh konsistensi dalam menempatkan konstitusi sebagai rujukan tertinggi dalam setiap penggunaan kekuasaan. Penegakan hukum yang berlandaskan integritas, independensi, dan etika kenegaraan merupakan prasyarat agar hukum tetap berfungsi sebagai penjaga demokrasi dan pelindung hak warga negara. Dalam kerangka tersebut, seluruh institusi negara memikul tanggung jawab konstitusional untuk memastikan bahwa hukum tidak menyimpang dari tujuan dasarnya, yakni menegakkan keadilan dan menjaga keseimbangan kekuasaan. Persimpangan yang dihadapi hari ini menuntut kejernihan sikap dan keteguhan komitmen, sebab masa depan negara hukum Indonesia hanya dapat ditopang oleh kesetiaan pada konstitusi dan keberanian untuk menempatkan keadilan di atas kepentingan jangka pendek.

Penulis : Zulfaimi

Editor : Zulfaimi

Sumber Berita: Suara Utama

Berita Terkait

Pemimpin Redaksi Media Suara Utama, Andre Hariyanto, Gelar Tasyakuran Kelahiran Putri, Harapkan Jadi Penghafal Al-Qur’an

Undangan Diantar Langsung Oleh Raja Datu Sambaliung, Perusahaan Tidak Hadir Seakan Menghindar.

Mampukah Meja Bundar Kraton Melahirkan Solusi Permanen

Pengurus LDTQN dan IBU BELA Palangkaraya Gelar Manaqib di Yayasan Al-Qonita

Kepengurusan Karang Taruna Pandeglang 2025–2030 Sah, Siap Rumuskan Agenda Strategis Daerah

Pimpin Apel Pasca-Lebaran, Wali Kota Pangkalpinang Minta ASN Bawa Semangat Baru dan Terapkan WFH Bergilir

Langkah Percepat Penggantian Direktur Utama Bank kaltimtara, Padahal Masa Jabatan Masih Ada.

Jalan Hancur Bak Kubangan Gajah, Warga Margo Tabir Sindir Keras Pemerintah: “Jangan Tutup Mata!”

Berita ini 49 kali dibaca

Tag : hukum Indonesia Indonesia Riau

Berita Terbaru

Berita Utama

Pemimpin Redaksi Media Suara Utama, Andre Hariyanto, Gelar Tasyakuran Kelahiran Putri, Harapkan Jadi Penghafal Al-Qur’an

Berita Utama

Undangan Diantar Langsung Oleh Raja Datu Sambaliung, Perusahaan Tidak Hadir Seakan Menghindar.

Nasional

Truck Alpomain Parkir Depan Kantor Pengairan Pekalen, Publik Pertanyakan Ada Target Atau Matrial Habis

Berita Utama

Mampukah Meja Bundar Kraton Melahirkan Solusi Permanen

Berita Utama

Pengurus LDTQN dan IBU BELA Palangkaraya Gelar Manaqib di Yayasan Al-Qonita

Berita Utama

Kepengurusan Karang Taruna Pandeglang 2025–2030 Sah, Siap Rumuskan Agenda Strategis Daerah

You can share this post!