Analisis Gaya Komunikasi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa oleh Pakar UMSurabaya
Denyut Publik

Analisis Gaya Komunikasi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa oleh Pakar UMSurabaya

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang baru saja dilantik oleh Presiden Prabowo, menarik perhatian publik dengan gaya komunikasinya yang dinamis. Beberapa kalangan mengapresiasi pendekatannya yang ceplas-ceplos, sementara yang lain mengkhawatirkan potensi polemik yang mungkin muncul akibat ketidakselarasan dengan kondisi sosial masyarakat.

Radius Setiyawan, seorang pakar kajian budaya dan media dari Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya), menilai gaya komunikasi Purbaya memiliki ciri khas yang cepat, lugas, dan langsung ke inti permasalahan. Ia juga menekankan pentingnya sensitivitas sosial dalam setiap ungkapan publik dari seorang pejabat.

Radius mengingatkan bahwa kontroversi sempat muncul ketika Purbaya menyatakan bahwa ia hanya mewakili sebagian kecil masyarakat di tengah situasi demonstrasi. "Pernyataan tersebut dianggap tidak memahami kondisi sosiologis masyarakat saat itu. Namun, seiring berjalannya waktu, Purbaya menunjukkan kemajuan dalam menjawab isu-isu makroekonomi dan moneter dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami oleh publik," ungkapnya.

Menariknya, Radius juga membandingkan gaya komunikasi Purbaya dengan gaya pemimpin politik lainnya di Indonesia. Ia mencatat bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dikenal dengan gaya sistematis yang hati-hati, sementara Presiden Joko Widodo lebih egaliter dalam menggunakan bahasa yang sederhana agar dekat dengan masyarakat. Di sisi lain, Purbaya dan Presiden Prabowo cenderung berbicara dengan gaya yang lebih dinamis dan langsung.

Radius menekankan bahwa setiap gaya komunikasi memiliki kelebihan tersendiri. Namun, yang terpenting adalah kemampuan untuk memahami denyut nadi masyarakat. "Jika publik sedang marah atau kecewa, pernyataan yang diskriminatif atau yang membuat masyarakat merasa diabaikan harus dihindari," tegasnya.

Ia juga memberikan pesan kepada menteri-menteri baru di Kabinet Merah Putih bahwa komunikasi publik saat ini sama pentingnya dengan kinerja teknis. "Masyarakat mengharapkan komunikasi yang sederhana namun substansial. Kebijakan yang baik bisa gagal diterima jika cara penyampaiannya tidak tepat. Menteri harus memahami audiens dan kondisi sosialnya, serta memilih bahasa yang sesuai," tambah Radius.

Lebih lanjut, Radius menegaskan bahwa keberhasilan komunikasi politik harus sejalan dengan hasil nyata di lapangan. "Jika komunikasi dan kebijakan berjalan beriringan, maka kepercayaan publik akan meningkat, yang sangat dibutuhkan Indonesia saat ini," tutupnya.

You can share this post!