Suara News - Warga Desa Silangkitang, Kecamatan Pahae Jae, Kabupaten Tapanuli Utara, mengeluhkan dampak negatif dari keberadaan PT Sarulla Operation Limited (SOL), yang beroperasi sejak 2017. Mereka merasa kehidupan mereka berubah drastis dari yang awalnya diharapkan menjadi berkah menjadi bencana bagi pertanian dan lingkungan sekitar.
Fernando Simorangkir, salah satu warga, menggambarkan bagaimana kehidupan masyarakat yang dulunya bisa panen padi dua kali setahun kini tidak menentu. Ia menyatakan bahwa debit air dari Aek Hapesong yang menjadi sumber irigasi sawah semakin mengecil sejak perusahaan beroperasi. Hal ini membuat banyak petani mengalami gagal panen dan beralih ke tanaman jagung yang juga sulit dipanen.
Selain pertanian, hasil panen durian juga mengalami penurunan. Fernando mencatat banyak pohon durian yang layu, yang diduga disebabkan oleh asap dari aktivitas perusahaan. Masyarakat pernah meminta klarifikasi kepada PT SOL mengenai bantuan bibit yang diberikan, tetapi banyak bibit yang mati sebelum dipanen. Selain dampak pertanian, perubahan iklim lokal juga dirasakan, seperti suhu yang semakin panas merugikan kenyamanan hidup warga.
Sekretaris Desa Silangkitang, Mangaranap Sinaga, mendukung pendapat warganya dan mencurigai pencemaran akibat aktivitas PT SOL. Ia mengakui bahwa ada penurunan hasil pertanian yang signifikan dan menginginkan dialog antara perusahaan dan masyarakat untuk menyelesaikan masalah. Anggota DPRD Tapanuli Utara, Terry Genta Siregar, juga menyoroti penurunan hasil pertanian di wilayah lain dan sedang mengumpulkan data untuk menindaklanjuti keluhan warga. Wakil Bupati Tapanuli Utara, Deni Lumbantoruan, berencana membahas masalah ini dengan dinas terkait dan menyampaikan bahwa perusahaan memberikan bonus produksi, tetapi penyalurannya terlambat.