Dampak Perubahan Pola Belanja terhadap Pasar Tradisional di Denpasar
Denyut Publik

Dampak Perubahan Pola Belanja terhadap Pasar Tradisional di Denpasar

DENPASAR, NusaBali - Perubahan pola belanja masyarakat di perkotaan kini mulai memberikan dampak yang signifikan terhadap keberlangsungan pasar tradisional di Kota Denpasar. Data menunjukkan bahwa sekitar 1.200 kios dan los di pasar yang dikelola oleh Perumda Pasar Sewakadarma saat ini dalam keadaan kosong dan belum dimanfaatkan secara optimal.

Kekosongan tersebut tersebar di 13 dari total 16 pasar yang dikelola oleh Perumda Pasar Sewakadarma, mewakili hampir 14 persen dari total 8.600 kios, los, dan pelataran yang tersedia. Fenomena ini menandakan penurunan daya tarik pasar tradisional, terutama di tengah meningkatnya popularitas pasar modern dan aktivitas perdagangan informal di ruang publik.

Kondisi Pasar Besar

Direktur Utama Perumda Pasar Sewakadarma, Ida Bagus Kompyang Wiranata, menjelaskan bahwa sejumlah pasar besar, seperti Pasar Badung dan Pasar Kumbasari, mengalami kekosongan yang cukup signifikan, terutama di area lantai atas yang minim pengunjung. "Pembeli cenderung memilih lokasi yang paling mudah dijangkau. Ini merupakan tantangan besar bagi pasar yang memiliki bangunan bertingkat," ungkapnya.

Faktor Penyebab Penurunan Pengunjung

Selain faktor aksesibilitas, kehadiran pasar modern di sekitar pasar tradisional juga berkontribusi terhadap penurunan jumlah pengunjung. Situasi ini semakin diperparah oleh keberadaan pedagang kaki lima dan pedagang liar yang berjualan di trotoar maupun pintu masuk pasar, yang mengakibatkan aktivitas jual beli beralih ke luar area resmi pasar.

Dampak terhadap Pedagang

Akibat kondisi ini, beberapa pedagang mulai mempertimbangkan untuk meninggalkan pasar, karena omzet yang diperoleh tidak lagi mencukupi biaya operasional sewa kios. Hal ini berdampak pada semakin banyaknya ruang dagang yang ditinggalkan.

Tindakan Perumda Pasar Sewakadarma

Menanggapi situasi tersebut, Perumda Pasar Sewakadarma telah membuka peluang bagi pedagang baru untuk memanfaatkan kios dan los kosong dengan skema sewa yang lebih fleksibel. Informasi mengenai ketersediaan kios telah diumumkan melalui kanal media sosial resmi Perumda Pasar.

"Kami berharap ruang pasar bisa kembali hidup. Pasar tradisional bukan hanya tempat transaksi, tetapi juga merupakan denyut ekonomi dan sosial masyarakat," pungkas Ida Bagus Kompyang Wiranata.

You can share this post!