Filipina mempersiapkan diri untuk menempatkan inovasi pertahanan dan teknologi yang sedang berkembang di garis depan prioritasnya sebagai ketua Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) pada tahun 2026.
KTT ASEAN dua tahunan berikutnya akan bertema “Menavigasi Masa Depan Kita, Bersama,” yang menekankan upaya blok beranggotakan 11 negara itu untuk menyertakan inovasi dan mempersiapkan diri dalam menghadapi tantangan baru, demikian menurut Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. Manila akan menggunakan peran kepemimpinannya untuk menyoroti penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence – AI) dan teknologi lainnya secara bertanggung jawab dalam membantu ASEAN mengantisipasi dan menanggapi ancaman yang terus berkembang.
“Kita akan memanfaatkan AI untuk sistem peringatan dini, kesadaran ranah maritim, serta bantuan kemanusiaan dan tanggap bencana (HADR), memastikan bahwa teknologi menjadi kekuatan yang menjaga stabilitas dan bukannya perpecahan,” ungkap Ferdinand Marcos Jr.
Menyoroti inovasi pertahanan mewakili titik balik strategis bagi Filipina, yang dalam beberapa tahun terakhir ini lebih berfokus pada keamanan maritim, demikian menurut Chester Cabalza, pendiri dan presiden International Development and Security Cooperation yang berkantor pusat di Manila.
Prioritas yang direncanakan Manila sebagai ketua ASEAN dapat memperkuat “kapasitas kawasan ini untuk mengatasi tantangan keamanan yang terus berkembang dan memanfaatkan teknologi untuk stabilitas, pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan masyarakat,” ungkap Chester Cabalza kepada FORUM, sembari mencatat bahwa Manila tengah berupaya membangun industri pertahanan domestik yang canggih.
Ferdinand Marcos Jr. mengatakan diskusi awal blok itu akan mencakup bagaimana AI dapat “mendorong transisi ASEAN menjadi komunitas yang diberdayakan secara digital,” khususnya dalam hal ekonomi.
Chester Cabalza mencatat potensi aplikasi AI di bidang keamanan, termasuk dalam menganalisis lalu lintas jaringan dalam jumlah besar untuk mendeteksi serangan siber, mengidentifikasi anomali yang terkait dengan perdagangan manusia dan migrasi ilegal, serta melawan propaganda, disinformasi, dan deepfake.
AI juga dapat meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana dan respons krisis dengan menganalisis data seismik dan pola cuaca historis dan waktu nyata melalui citra satelit, serta mengerahkan drone dan robot untuk penilaian kerusakan secara cepat di zona konflik dan area berbahaya lainnya.
Filipina dapat “memanfaatkan pengalamannya sendiri dalam menghadapi bencana alam untuk memperkuat kapabilitas regional dalam mengintegrasikan teknologi canggih demi membangun pendekatan ketahanan yang inklusif dan berpusat pada masyarakat,” ungkap Chester Cabalza.