Film dokumenter lokal berjudul Tambang Emas Ra Ritek mencetak sejarah pada malam puncak Festival Film Indonesia (FFI) 2025 dengan meraih penghargaan Film Dokumenter Panjang Terbaik. Karya yang dihasilkan oleh anak-anak Trenggalek ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Jawa Timur dan menggarisbawahi kekuatan cerita perjuangan yang muncul dari akar rumput di panggung perfilman Indonesia.
Film Ra Ritek mengangkat kisah penolakan terhadap rencana penambangan emas di Trenggalek. Warga setempat beranggapan bahwa proyek ini dapat merusak ruang hidup dan lingkungan mereka. Pengumuman pemenang dilakukan di panggung Anugerah Piala Citra yang berlangsung di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, dengan suasana yang meriah dan khidmat.
Penghargaan tersebut diserahkan oleh Maudy Ayunda, yang bertindak sebagai pembaca nominasi. Sutradara Alvina N.A dan produser Wahyu A.O hadir di atas panggung untuk menerima Piala Citra, menandai momen bersejarah bagi tim produksi dan masyarakat Trenggalek.
Film ini berhasil mendokumentasikan suara penolakan dari berbagai elemen masyarakat, termasuk petani, nelayan, perempuan, pemuda, dan tokoh agama, yang semuanya terlibat dalam perjuangan melindungi lingkungan mereka. Kisah-kisah perjuangan ini kini menggema di tingkat nasional, menyentuh hati banyak warga Trenggalek yang merasa bahwa film ini mewakili suara mereka.
Nama Ra Ritek diambil dari bahasa khas masyarakat Trenggalek yang berarti 'tidak usah', yang menjadi simbol penolakan tegas terhadap rencana penambangan. Film ini merupakan hasil kolaborasi antara beberapa organisasi, termasuk Mantrabumi, Serikat Suket, Persma Jimat, dan JATAM, dengan tujuan mendokumentasikan dan mengedukasi publik mengenai ancaman yang ditimbulkan oleh tambang emas.
Respon warganet terhadap kemenangan film ini sangat positif, banyak yang merasa terharu karena daerah mereka terlindungi dari ancaman perusakan. Mereka menegaskan pentingnya menjaga lingkungan dibandingkan dengan mengejar keuntungan jangka pendek. Kemenangan ini juga dilihat sebagai inspirasi bagi Indonesia atas perjuangan yang dilakukan oleh masyarakat Trenggalek.
Prestasi ini membuktikan bahwa cerita dari akar rumput memiliki pengaruh yang signifikan, serta menunjukkan pentingnya suara masyarakat dalam isu-isu lingkungan. Banyak yang berharap, kemenangan ini dapat membawa dampak nyata bagi masa depan Trenggalek dan berkontribusi pada perkembangan film dokumenter di Indonesia serta menarik perhatian lebih besar pada isu-isu lingkungan dan sosial.
Seluruh tim produksi, bersama dengan warga yang hadir di malam puncak, merasakan kebanggaan dan haru atas pencapaian ini. Kemenangan ini dirayakan sebagai tonggak sejarah baru bagi Trenggalek, serta menegaskan potensi seni dokumenter dalam mengangkat isu-isu penting. Dukungan publik sangat diperlukan untuk mendukung perjuangan warga ke depan.
Nominasi untuk film ini diumumkan antara 10 hingga 20 November sebelum malam puncak, dan tim produksi datang langsung ke Jakarta untuk menerima penghargaan tersebut. Perjuangan menjaga ruang hidup menjadi garis besar narasi film ini, dan kemenangan ini merupakan pengakuan atas nilai lingkungan yang dijunjung tinggi oleh masyarakat.