Hilman Latief: Kemanusiaan Muhammadiyah sebagai Wujud Dakwah Berkemajuan
Sosial

Hilman Latief: Kemanusiaan Muhammadiyah sebagai Wujud Dakwah Berkemajuan

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Hilman Latief, menegaskan bahwa kerja-kerja kemanusiaan yang dilakukan Persyarikatan di berbagai wilayah terdampak bencana merupakan wujud nyata dakwah Islam Berkemajuan.

Hal tersebut disampaikan dalam ZISKA Talks Tarhib Ramadan Lazismu Pimpinan Pusat Muhammadiyah bertajuk “Tangguh dan Sejahtera: Dari Respon ke Pemulihan Bencana Sumatera” pada Kamis (12/2/2026).

Hilman menyampaikan apresiasi atas dedikasi seluruh tim dan relawan yang terlibat di lapangan. Menurutnya, respons terhadap bencana bukan sekadar kerja teknis, tetapi bagian dari risalah besar Muhammadiyah.

“Apa yang kita lakukan hari ini bukan sekadar respons teknis terhadap bencana, tetapi bagian dari risalah besar Muhammadiyah dalam menerjemahkan Islam sebagai gerakan dakwah dan misi kemanusiaan. Ini kerja mulia, dan tentu tidak mudah,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa dakwah dalam perspektif Muhammadiyah tidak hanya dimaknai sebagai ceramah atau penyampaian pesan keagamaan, melainkan gerakan amar ma’ruf nahi munkar yang diwujudkan dalam aksi nyata di berbagai bidang kehidupan.

“Mengajak kepada kebaikan itu mencakup aspek sosial, ekonomi, etika, bahkan politik. Termasuk di dalamnya menggerakkan umat untuk berzakat, berinfak, dan bersedekah. Di sinilah peran lembaga pengelola zakat menjadi sangat penting,” jelasnya.

Momentum Ramadan, lanjut Hilman, harus dimanfaatkan untuk memperkuat tradisi filantropi umat. Bulan suci menghadirkan ruang spiritual yang lebih luas bagi masyarakat untuk berbagi dan menebar kebaikan.

“Ramadan selalu menghadirkan gelombang kedermawanan. Tugas kita adalah mengelolanya dengan baik, akuntabel, dan profesional agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh mereka yang membutuhkan,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya inovasi dan basis keilmuan dalam dakwah kemanusiaan. Menurutnya, Islam harus diposisikan sebagai gerakan ilmu sekaligus gerakan amal.

“Dakwah tidak cukup hanya dengan semangat dan empati. Kita membutuhkan basis keilmuan, inovasi, evaluasi program, monitoring, hingga audit yang kuat. Tanpa ilmu, kerja kemanusiaan akan berjalan berat dan tidak berkelanjutan,” katanya.

Hilman menambahkan, tradisi Muhammadiyah sejak awal menempatkan pendidikan dan pencerahan sebagai fondasi gerakan. Karena itu, kerja kemanusiaan pun harus dikelola dengan standar profesional dan tata kelola yang baik.

“Akuntabilitas adalah bagian dari sifat keislaman kita. Ketika kita terbuka terhadap evaluasi dan audit, itu bukan beban, tetapi justru penguat integritas,” ungkapnya.

Dalam konteks respons bencana, ia mencontohkan pendampingan pascagempa di Cianjur yang masih berjalan hingga beberapa tahun setelah kejadian. Menurutnya, kerja kemanusiaan tidak berhenti pada fase tanggap darurat.

“Sering kali orang mengira kerja kemanusiaan selesai ketika fase tanggap darurat berakhir. Padahal, justru di fase pemulihan jangka panjang itulah komitmen kita diuji,” tuturnya.

Lebih jauh, Hilman mengaitkan kerja kemanusiaan dengan pesan Al-Qur’an dalam Surah Al-Balad tentang aqabah atau jalan terjal yang berat untuk ditempuh. Membantu sesama dalam kondisi sulit, menurutnya, merupakan bentuk nyata menaklukkan aqabah tersebut.

“Al-Qur’an menggambarkan aqabah sebagai jalan yang berat: membebaskan manusia dari ketertekanan, memberi makan saat masa sulit, membantu anak yatim dari kerabat terdekat, dan menolong fakir miskin yang sangat papa. Itu semua bukan perkara ringan,” jelasnya.

Ia mengingatkan bahwa kepedulian sosial sering kali lebih mudah diberikan kepada pihak yang jauh, namun terasa berat ketika menyentuh lingkar terdekat.

“Kadang kita mudah membantu orang lain, tetapi lupa pada keluarga atau lingkungan sekitar yang membutuhkan. Padahal, Al-Qur’an mengajarkan keseimbangan itu,” ujarnya.

Hilman juga menyoroti tantangan kepekaan sosial di tengah situasi kemiskinan ekstrem. Menurutnya, kehadiran relawan dan penggerak kemanusiaan merupakan wujud keberanian moral untuk tetap peduli.

“Tanpa kita sadari, teman-teman relawan sedang mendaki aqabah itu. Menjangkau wilayah bencana, menggerakkan donasi, menguatkan korban—semuanya adalah bagian dari perjuangan menaklukkan jalan terjal tersebut,” katanya.

Ia mendorong agar kerja-kerja kemanusiaan terus dikabarkan kepada publik sebagai bentuk transparansi sekaligus inspirasi. Program yang dirancang, lanjutnya, bersifat jangka menengah dan panjang, bahkan melampaui satu tahun.

Kepada para relawan di daerah, Hilman menyampaikan pesan semangat.

“Apa yang Anda lakukan di Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan wilayah lain adalah bagian dari ikhtiar besar menaklukkan aqabah. Semoga setiap langkah kita menjadi amal saleh yang diridhai Allah SWT,” tutupnya.

You can share this post!