Italia Longgarkan Lockdown, Kehidupan Kembali Berdenyut
Denyut Publik

Italia Longgarkan Lockdown, Kehidupan Kembali Berdenyut

Setelah delapan minggu menjalani karantina nasional akibat pandemi Covid-19, Italia mulai memperlihatkan tanda-tanda pemulihan. Pada hari Senin, 4 Mei 2020, negara yang dipimpin oleh Perdana Menteri Giuseppe Conte ini resmi melonggarkan kebijakan lockdown yang diterapkan sejak 9 Maret 2020. Italia menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan langkah drastis ini untuk menanggulangi penyebaran virus.

Melonggarnya kebijakan ini disambut positif oleh masyarakat. Daniela, seorang pemilik toko di Roma, menyatakan, "Kini kami bisa mendengar lebih banyak suara. Itu lebih baik daripada keheningan yang menakutkan." Dengan langkah ini, sekitar 4 juta penduduk Italia dapat kembali bekerja, di mana sekitar 72 persen di antaranya adalah pria.

Pabrik-pabrik dan area konstruksi telah dibuka kembali, sementara kafe dan restoran diperbolehkan untuk beroperasi, meskipun hanya untuk layanan take away. Namun, bar dan gerai es krim masih dilarang untuk buka. Transportasi publik juga belum sepenuhnya kembali normal, dan penggunaan masker diwajibkan di area publik, termasuk di dalam ruangan.

Keputusan untuk melonggarkan karantina diambil setelah melihat penurunan yang signifikan dalam jumlah kasus infeksi dan kematian akibat Covid-19. Italia, yang pernah menjadi episentrum wabah di Eropa, menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Meski demikian, banyak penduduk yang tetap waspada dan khawatir akan kemungkinan lonjakan kasus kembali terjadi.

Kebijakan Serupa di Negara Lain

Sementara itu, di Iran, Presiden Hassan Rouhani mengumumkan bahwa masjid di 132 kota akan dibuka kembali dan salat Jumat diperbolehkan di area dengan risiko penularan rendah. Kebijakan ini menunjukkan langkah serupa yang diambil oleh Italia dalam menghadapi pandemi.

Di sisi lain, beberapa negara masih berjuang mengendalikan penyebaran virus. Afrika Selatan sedang menguji coba penggunaan vaksin Bacillus Calmette-Guerin (BCG) untuk melihat potensi pencegahan penularan dan pengurangan tingkat keparahan Covid-19 di kalangan pekerja medis. Uji coba ini melibatkan sekitar 3.000 pekerja medis di Cape Town dan direncanakan berlangsung selama satu tahun.

Rusia juga mengalami peningkatan kasus Covid-19, dengan perkiraan sekitar 2 persen penduduk Moskow terinfeksi. Presiden Vladimir Putin menyatakan bahwa Rusia belum mencapai puncak wabah, sehingga lonjakan kasus kemungkinan masih akan terjadi.

Di Jepang, Perdana Menteri Shinzo Abe memutuskan untuk memperpanjang status darurat nasional hingga akhir Mei 2020. Pemerintah akan meninjau kembali kebijakan ini dalam dua minggu ke depan, dengan harapan dapat mencabut status darurat lebih awal jika penurunan penularan virus terlihat signifikan.

"Saat ini penurunan jumlah orang yang terinfeksi belum mencapai level yang memadai," ungkap Abe. Status darurat di Tokyo dan enam wilayah lainnya diberlakukan sejak 7 April 2020 dan seharusnya berakhir pada 6 Mei 2020.

You can share this post!