Pada 8 April 2026, sebuah tajuk rencana berjudul “Prioritas Sesat” yang dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat mencerminkan kegelisahan masyarakat terhadap kebijakan publik yang seringkali tidak sesuai dengan kebutuhan riil. Tulisan ini menyoroti bagaimana kebijakan yang seharusnya menjadi panduan dalam pembangunan seringkali melenceng dari tujuan aslinya.
Dalam kondisi sosial dan ekonomi yang terus berubah, prioritas kebijakan seharusnya berfungsi sebagai jangkar yang mengarahkan pembangunan. Namun, kenyataannya, tidak semua kebijakan lahir dari pertimbangan yang matang dan partisipatif. Ini menjadi penting untuk dibahas, karena kesalahan dalam menetapkan prioritas kebijakan berpotensi berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat.
Kebijakan publik idealnya mencerminkan kebutuhan masyarakat yang diterjemahkan dalam bentuk tindakan nyata. Namun, seringkali kebijakan kehilangan orientasi yang seharusnya ada. Misalnya, dalam digitalisasi layanan publik, meskipun terlihat menjanjikan, implementasinya belum sepenuhnya siap. Banyak layanan seperti aplikasi untuk pajak kendaraan, bantuan sosial, atau layanan kesehatan justru menyulitkan kelompok tertentu, terutama lansia dan masyarakat di daerah dengan akses internet yang terbatas.
Keadaan ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu disertai dengan kesiapan sistem dan literasi yang memadai di kalangan pengguna. Hal ini menciptakan kesenjangan dalam akses layanan yang seharusnya memudahkan masyarakat.
Contoh lain adalah penyesuaian harga BBM bersubsidi yang belum sepenuhnya tepat sasaran. Subsidi yang seharusnya melindungi kelompok rentan, dalam praktiknya, masih dapat dinikmati oleh kelompok yang lebih mampu. Ketika harga disesuaikan, dampak terbesar dirasakan oleh pelaku usaha kecil dan masyarakat berpenghasilan rendah. Ini menunjukkan bahwa orientasi kebijakan belum sepenuhnya berpihak pada mereka yang paling membutuhkan.
Dalam konteks ini, penting bagi masyarakat untuk tidak hanya memahami tetapi juga mempertanyakan dan menimbang ulang arah kebijakan yang sedang berjalan. Transparansi dan akuntabilitas menjadi tuntutan utama dalam mengembalikan fokus kebijakan kepada kepentingan bersama.