Suara News - Media sosial dipenuhi keluhan seorang ibu mengenai suara sahur keliling yang dianggap mengganggu di lingkungan tempat tinggalnya. Ia merasa suara yang terlalu bising membangunkan warga, termasuk bayinya yang terbangun dan menangis akibat kaget.
Dalam unggahannya, ibu tersebut menyatakan bahwa meskipun niat baik warga yang berkeliling untuk membangunkan sahur dipahami, suara yang keras menjadi masalah. Ia berpendapat bahwa dengan banyaknya orang yang kini memiliki alarm di ponsel, sahur keliling tidak lagi diperlukan seperti dulu.
Unggahan tersebut menuai beragam komentar dari netizen. Sebagian mendukung keluhan itu, meminta agar sahur keliling dilakukan dengan volume yang lebih terkontrol. Namun, ada pula yang membela tradisi tersebut sebagai bagian dari semarak Ramadan dan bentuk kebersamaan di antara warga. Perdebatan muncul, dengan beberapa pihak menekankan soal toleransi dan pentingnya kenyamanan bersama, terutama bagi bayi, lansia, dan warga yang sedang sakit.
Fenomena ini kembali membuka diskusi tentang relevansi sahur keliling di era digital saat ini, mempertanyakan apakah tradisi ini masih penting atau justru harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat modern.