Suara News - Bagi kebanyakan remaja kelas XI, masa sekolah adalah tentang buku pelajaran dan nongkrong bersama teman. Namun, bagi Muhammad Fadil, santri asuh Rumah Yatim Cabang Asrama Setia Budi Medan, awal tahun 2026 menjadi babak baru yang mengubah cara pandangnya terhadap dunia.
Berbekal semangat kemanusiaan, siswa Namira Islamic School ini terjun langsung ke garda terdepan sebagai relawan bencana banjir di Desa Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang. Di sana, pada 19 Januari 2026, Fadil tidak hanya membawa bantuan fisik, tetapi juga membawa hatinya.
Langkah kaki Fadil di Aceh Tamiang disambut pemandangan yang menyayat hati. Rumah-rumah hancur diterjang arus, meninggalkan sisa-sisa kehidupan yang porak-poranda. Namun, yang paling memukul batinnya adalah kisah-kisah di balik reruntuhan itu.
"Ada rasa senang bercampur haru yang sulit digambarkan. Saya melihat banyak anak yang kehilangan segalanya, rumah mereka, bahkan ada yang harus kehilangan orang tua akibat bencana ini," kenang Fadil dengan nada bergetar.
Meski begitu, di tengah duka yang masih basah, Fadil menemukan sebuah keajaiban, semangat yang tidak ikut hanyut terbawa banjir. Di bawah tenda-tenda darurat yang didirikan dalam rangka Babo Islamic Fair, ia menyaksikan anak-anak korban bencana tetap antusias menuntut ilmu. Sekolah darurat itu menjadi saksi bahwa pendidikan tidak boleh mati, meski di atas tanah yang berlumpur.
Bersama tim relawan lainnya, Fadil mengambil peran sebagai kakak, guru, sekaligus sahabat bagi anak-anak di Desa Babo. Ia mengajar, mengajak mereka bercengkerama, hingga menggelar lomba mewarnai dan perlombaan bernuansa Islami.
Melihat tawa kembali merekah di wajah anak-anak tersebut menjadi upah yang tak ternilai bagi Fadil. Ia mengaku, pengalaman ini adalah guru terbaik yang pernah ia temui.
"Melihat tawa mereka kembali merekah di tengah kondisi yang sulit menjadi pelajaran berharga bagi saya. Mereka mengajarkan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk menyerah, dan bencana bukanlah akhir dari harapan," tutur Fadil penuh syukur.
Perjalanan ini telah menumbuhkan empati yang lebih dalam di jiwa Fadil sebagai anak asuh Rumah Yatim. Ia menyadari bahwa rasa syukur bukan hanya tentang apa yang kita miliki, tetapi tentang seberapa banyak kita bisa memberi kepada sesama.
Pengalaman Fadil adalah bukti nyata bahwa pembinaan di Rumah Yatim mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang tinggi.
Kisah Fadil adalah pengingat bahwa kepedulian kita bisa menjadi lentera bagi mereka yang sedang dalam kegelapan. Mari tunjukkan empati Anda dengan mendukung program-program kemanusiaan di Rumah Yatim. Sisihkan sebagian harta melalui sedekah, infaq, atau zakat untuk membantu mereka yang membutuhkan. Ayo klik tombol di bawah ini untuk terus menebarkan kebaikan.