Aceh Tamiang, InfoPublik – Di bawah langit biru yang cerah, Midah, seorang ibu rumah tangga di Medang Ara, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, mengamati layar ponselnya. Hari itu, bar sinyal di ponselnya kembali penuh, menghilangkan kecemasan yang sempat melanda saat banjir merendam wilayah tersebut.
Midah mengingat kembali betapa sulitnya saat bencana datang, ketika akses komunikasi terputus akibat banjir yang membawa lumpur dan merusak infrastruktur. "Rasanya seperti terkurung dalam gelap," ungkapnya. Pada saat itu, ia tidak dapat menghubungi kerabat atau meminta bantuan karena sinyal hilang dan listrik padam.
Namun, seiring dengan surutnya air, jaringan telekomunikasi pun kembali pulih. Midah merasa lega karena kini ia dapat berkomunikasi dengan keluarganya tanpa hambatan. "Sinyal stabil, meski untuk streaming YouTube masih sedikit lemot, tapi untuk komunikasi sudah lancar," tuturnya dengan senyum kecil.
Senyum Midah mencerminkan keberhasilan upaya pemulihan yang dilakukan pemerintah. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, mengunjungi lokasi menara BTS yang terdampak pada akhir Desember 2025 dan menegaskan pentingnya konektivitas dalam proses pemulihan. "Kini warga bisa kembali mengabari keluarga dan mengakses informasi yang dibutuhkan," jelasnya.
Meutya menyatakan bahwa pemulihan jaringan secara keseluruhan telah mencapai lebih dari 95 persen. Namun, di beberapa daerah seperti Aceh Tamiang, Bener Meriah, dan Gayo Lues, performa jaringan masih berada di kisaran 60-80 persen karena kendala pasokan listrik. Meskipun demikian, bagi warga seperti Midah, sinyal yang ada sudah cukup untuk memberikan harapan.
Selain pemulihan sinyal, Kementerian Komunikasi dan Digital juga mengirimkan 118 tangki air bersih berkapasitas 8.000 liter untuk membantu warga yang sumber airnya tercemar akibat banjir. Bantuan ini sangat penting bagi masyarakat yang masih berjuang untuk mendapatkan kebutuhan dasar mereka setelah bencana.
Meskipun sinyal telah kembali dan air bersih telah tersedia, Midah masih merasakan beban berat akibat kerusakan rumahnya yang parah. Dinding yang retak dan perabotan yang rusak menjadi pengingat akan dampak bencana. Ia berharap ada bantuan untuk memperbaiki rumahnya, mengungkapkan harapannya melalui komunikasi yang kini sudah lancar.
Di Aceh Tamiang, menara BTS kini menjadi simbol kebangkitan. Ia tidak hanya memancarkan sinyal 4G, tetapi juga harapan bagi Midah dan ribuan korban lainnya agar kehidupan mereka dapat pulih sepenuhnya.