TAPANULI TENGAH, KOMPAS.com – Samirin Sitompul, seorang warga Desa Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, mengungkapkan kesedihannya atas kehancuran kampungnya yang terkena dampak banjir bandang dan longsor. Banyak harta benda yang hilang, dan rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung kini telah rata dengan tanah.
Banjir yang terjadi pekan lalu menghanyutkan tiga mobil milik Samirin, dan kini ia menghadapi masalah yang lebih mendesak: krisis air bersih. "Kerugian janganlah dinilai lagi, banyak. Tapi intinya ya masyarakat Hutanabolon butuh air bersih lah sekarang," ujar Samirin saat ditemui di lokasi bencana.
Ia menjelaskan bahwa meskipun bantuan logistik dan fasilitas sanitasi telah tersedia di posko-posko pengungsian di luar wilayah, seperti di Tanah Merah, warga Hutanabolon yang terjebak di dalam area terdampak justru terabaikan, terutama dalam hal ketersediaan air bersih.
“Ah, dari parit lah (airnya). Mana ada yang bersih di sana,” tambahnya, merujuk pada kondisi air yang harus mereka gunakan yang tidak layak untuk dikonsumsi.
Sementara itu, meskipun terdapat bantuan air bersih di Desa Tukka, akses tersebut tidak menjangkau ribuan Kepala Keluarga (KK) yang berada di zona terdalam bencana, yaitu Hutanabolon. "Di sini yang ditaruh air bersih. Di sana (Hutanabolon) enggak ada. Makanya bingung kami, masyarakat Hutanabolon, bagaimana lah ini?" ungkapnya.
Selain masalah air bersih, Samirin juga menyoroti kurangnya distribusi makanan dan bantuan logistik ke wilayah mereka. Ia terlihat memohon kepada petugas yang membagikan makanan di Desa Tukka untuk memberikan satu kantong berisi paket nasi dan logistik agar dapat dibawa pulang ke Hutanabolon.
“Makanya ku bilang, ku minta dari Bapak itu tadi satu kantongan, biar dibagi-bagi sama yang di sana,” ujarnya. Samirin menegaskan bahwa jika mengandalkan giliran distribusi, bantuan sering kali habis sebelum mencapai daerah yang lebih parah seperti Hutanabolon.
Dia memperkirakan ada lebih dari seribu KK yang terdampak di desanya, dan selain kehilangan rumah, ratusan hektar lahan pertanian sebagai tumpuan ekonomi warga juga dipastikan gagal panen. "Hancur semuanya. Gagal panen, rusak semua, enggak ada yang tersisa," jelasnya.
Samirin berharap pemerintah segera mengambil tindakan dengan turun ke daerah yang masih terisolasi. Ia meminta agar tidak hanya sembako yang diberikan, tetapi juga perbaikan infrastruktur vital yang telah hancur.
“Harapannya, kalau bisa dibaguskan pemerintah lah. Biar bisa bangun rumah lagi di situ. Sungainya kan nanti kita kasih tahu di mana alir sungai yang pertama. Biar enggak hilang tanah-tanah masyarakat,” tutupnya.