Jakarta (ANTARA) - Ratusan penumpang berdesakan di dermaga kecil Banda Neira, Maluku Tengah, menanti kapal Pelni yang akan berangkat menuju Ambon. Di pulau ini, yang hanya dapat dijangkau lewat laut dan dengan transportasi udara terbatas, setiap kedatangan kapal menjadi peristiwa penting bagi kehidupan masyarakat setempat.
Banda Neira, yang terletak di gugusan Laut Banda, memiliki sejarah yang signifikan dalam perdagangan rempah-rempah dunia. Sekarang, pulau kecil ini menjadi simbol ketabahan masyarakat yang bertahan di wilayah terluar Indonesia.
Berlainan dengan Jakarta yang dipenuhi moda transportasi modern, Banda Neira masih mengandalkan kesabaran dalam menanti keberangkatan kapal. Warga sering kali harus menunggu tiga hingga empat hari hanya untuk keluar dari pulau. Kapal Pelni, dengan waktu tempuh sekitar 14 jam menuju Ambon, menjadi satu-satunya pilihan untuk menyeberang, menghadapi tantangan ombak dan jarak yang jauh.
Setiap keberangkatan kapal di Banda Neira bukan sekadar rutinitas, tetapi merupakan denyut kehidupan yang menjaga pulau ini tetap bernapas. Bangunan tua berwarna biru di tepi pelabuhan menyaksikan kesibukan sore itu, saat warga membawa barang bawaan mereka, seperti karung, koper, dan tas, menuju kapal.
Ketika tangga besi dibentangkan ke lambung kapal berlabel “PELNI”, antrean panjang mulai bergerak perlahan. Selain penumpang, kapal juga mengangkut logistik kehidupan, termasuk beras, minyak, sayur-mayur, dan paket dari keluarga di Ambon dan Jakarta. Kapal Pelni menjadi urat nadi yang menghubungkan Banda Neira dengan dunia luar; tanpa kapal ini, harga kebutuhan pokok bisa melambung tinggi, menghentikan arus ekonomi yang ada.
Di tengah hiruk-pikuk, beberapa awak kapal berjaga di tangga, membantu penumpang naik dengan aman. Suasana tenang seketika menyelimuti dermaga saat sebuah ambulans masuk pelabuhan, memberikan jalan bagi seorang perempuan yang akan dibawa ke rumah sakit di Ambon. Bagi perempuan tersebut, kapal ini adalah harapan yang akan menyeberangi lautan untuk menyelamatkan hidupnya.
Perempuan lain yang berdiri di sisi pelabuhan meneteskan air mata, menyadari betapa besar arti kapal bagi kehidupan di Banda Neira. Bagi warga setempat, Pelni bukan sekadar kapal yang berlabuh; kapal ini menjadi jembatan kemanusiaan yang membawa logistik, kesehatan, pendidikan, serta memperkuat keterhubungan antar pulau.
Setiap peluit panjang yang terdengar bukan hanya tanda keberangkatan, tetapi juga pernyataan bahwa negara hadir di wilayah tertinggal, terdepan, terluar, dan perbatasan (3TP). Kapal Pelni perlahan berlayar meninggalkan dermaga, membawa manusia, barang, dan harapan melintasi Maluku.
Saat ini, terdapat 25 kapal penumpang aktif dari total 26 armada Pelni, dengan satu kapal masih dalam perawatan. Selain itu, terdapat 30 kapal perintis, satu kapal ternak, satu kapal rede, dan 11 kapal barang untuk melayani berbagai jalur. Sekitar 10 kapal di antaranya melayani kawasan timur Indonesia, yang memiliki bentang lautan luas dan transportasi terbatas.
Pelni menghadapi tantangan untuk tetap beroperasi di tengah keterbatasan armada tua. Beberapa kapal telah berusia lebih dari 40 tahun, melintasi ribuan mil laut dan menjadi saksi perjalanan ekonomi serta kemanusiaan di Indonesia Timur. Untuk membeli satu kapal baru tipe besar, dibutuhkan dana sekitar Rp1,5 triliun. Dengan laba operasional tahunannya sekitar Rp200 miliar, Pelni memperkirakan butuh waktu hingga satu dekade untuk mengumpulkan biaya pengadaan kapal baru.
Kebutuhan ideal untuk menyatukan seluruh wilayah Nusantara mencapai 80 kapal penumpang, yang diyakini dapat memperpendek waktu tunggu masyarakat di pulau-pulau kecil. Saat ini, warga Banda Neira harus menunggu kapal Pelni tiga hingga empat hari sekali, sementara pesawat kecil hanya terbang dua kali seminggu dengan kapasitas terbatas.
Dari sejarah dan kondisi terkini Banda Neira, terlihat perlunya pemenuhan kebutuhan transportasi. Setiap kedatangan kapal Pelni bukan hanya tentang penumpang dan logistik, tetapi juga membawa harapan, membantu pasien yang ingin sembuh, serta menopang ekonomi pulau melalui barang dagangan yang diangkut. Kapal Pelni menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat di Banda Neira.