Ajang yang awalnya sekadar kompetisi bela diri tingkat lokal itu kini bertransformasi menjadi magnet ekonomi.
Ratusan atlet dari berbagai daerah di Indonesia turut ambil bagian dalam kejuaraan tersebut.
Bupati Jember Muhammad Fawait menilai, perhelatan ini membawa dampak signifikan terhadap perputaran ekonomi daerah.
“Kedatangan sekitar 860 peserta beserta pendampingnya ini memutar roda ekonomi kita. Mulai dari perhotelan, UMKM, hingga pedagang kaki lima (PKL) merasakan manfaatnya secara langsung,” ujarnya saat membuka turnamen tersebut.
Selain berdampak ekonomi, agenda rutin olahraga ini juga dinilai sebagai investasi sosial. Kompetisi menjadi wadah pembinaan generasi muda agar tumbuh dengan karakter positif, kompetitif, dan terhindar dari kenakalan remaja.
Ketua Umum IPSI Cabang Jember Ahmad Halim mengungkapkan, antusiasme peserta terus meningkat setiap tahun. Pada penyelenggaraan ketiga ini, tercatat sekitar 800 peserta dari tujuh provinsi ambil bagian.
“Peserta datang dari Sumatra Utara, DKI Jakarta, hingga Nusa Tenggara Barat. Antusiasmenya luar biasa, bahkan sebenarnya sudah kami batasi,” ujar Halim yang juga menjabat Ketua DPRD Jember.
Sementara itu, KONI Jember turut menyambut konsep sport tourism sebagai strategi jangka panjang. Dalam rapat koordinasi bersama 49 cabang olahraga di bawah KONI, Selasa (17/2), juga dibahas penguatan konsep event olahraga yang berdampak pada sektor pariwisata.
“Kami ingin mengembangkan sport tourism di Jember. Karena itu, kami mengajak cabor mengadakan event tingkat nasional maupun provinsi di Jember. Kami siap mendukung dan berkolaborasi dengan Bapak Bupati untuk meningkatkan sport tourism di Kabupaten Jember,” jelasnya.
Dengan kolaborasi antara pemerintah daerah, KONI, dan seluruh cabang olahraga, Jember optimistis sport tourism dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi baru. Sekaligus memperkuat citra daerah sebagai kota tujuan event olahraga dan pariwisata. (mau/dwi)
Editor : M. Ainul Budi