Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi mengambil langkah proaktif untuk menanggapi keluhan masyarakat mengenai kepadatan lalu lintas yang terjadi di kawasan Stasiun Bekasi. Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, menyatakan bahwa berbagai upaya sedang disiapkan, mulai dari rekayasa lalu lintas, pengaturan parkir, hingga pembangunan infrastruktur yang mendukung.
Stasiun Bekasi merupakan salah satu simpul transportasi utama di kawasan Jabodetabek, melayani tidak hanya perjalanan dalam kota tetapi juga luar kota. Menurut Tri, tingginya volume penumpang berkontribusi pada kemacetan yang terjadi, terutama pada jam-jam sibuk. Oleh karena itu, rekayasa lalu lintas menjadi penting untuk mengantisipasi masalah tersebut.
“Kami ingin memastikan bahwa beban lalu lintas di sekitar stasiun dapat diatasi. Kami sedang merencanakan pengaturan keluar masuk kendaraan serta kapasitas parkir agar lebih optimal,” ujarnya.
Untuk jangka menengah hingga panjang, Pemkot Bekasi merencanakan pembangunan flyover atau underpass. Proses studi kelayakan untuk proyek ini direncanakan akan dilakukan pada tahun 2026, dan pembebasan lahan dijadwalkan pada tahun 2027. “Kami akan menentukan pilihan terbaik antara flyover atau underpass,” tambah Tri.
Selain pembangunan flyover atau underpass, Pemkot juga sedang mengkaji pembangunan jalan frontage di sisi rel kereta api, yang diharapkan dapat membantu mengurai kemacetan. Jalan frontage ini akan menghubungkan jalan perjuangan hingga jalan pahlawan.
Tri Adhianto juga mengharapkan dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk merealisasikan rencana ini. Ia menegaskan bahwa Pemkot Bekasi akan memaksimalkan penggunaan lahan yang telah dibebaskan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk mendukung inisiatif tersebut.