Kota Solo, yang dikenal dengan julukan Kota Bengawan, memiliki 18.143 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) hingga akhir tahun 2025. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan mencerminkan denyut nadi ekonomi daerah. Data tersebut diperoleh dari Kinerja dan Pelayanan Dinas Koperasi UKM dan Perindustrian Kota Solo yang mencatat perkembangan sektor UMKM hingga akhir tahun 2025.
UMKM di kota ini beragam, mulai dari warung rumahan hingga usaha kreatif berbasis digital. Mereka tidak hanya memberikan kontribusi terhadap perekonomian, tetapi juga menjadi sumber penghasilan bagi ribuan keluarga. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan UMKM harus diarahkan untuk mendorong pertumbuhan dan peningkatan kualitas, bukan sekadar bertahan hidup.
Program UMKM Center, yang merupakan bagian dari Asta Cita Surakarta, berfokus pada kebutuhan riil pelaku usaha. Program ini menawarkan berbagai bentuk pendampingan, termasuk manajemen usaha, pelatihan digitalisasi, perluasan pangsa pasar, serta skema bantuan modal dan penjualan. Pendekatan ini bertujuan untuk memperkuat fondasi UMKM agar mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif.
Pemerintah Kota Solo berperan layaknya seorang ibu bagi pelaku usaha. Mereka hadir untuk mendampingi, melindungi, dan membuka peluang terbaik bagi pertumbuhan UMKM. Kerja sama dengan berbagai pihak, baik dari sektor swasta, komunitas, maupun penyelenggara acara, menjadi strategi penting untuk mempromosikan produk-produk UMKM ke pasar yang lebih luas. Event dan kolaborasi ini tidak hanya sekadar agenda rutin, tetapi juga berfungsi sebagai instrumen promosi dan penguatan jaringan bisnis.
Keberpihakan pemerintah terhadap UMKM harus diimbangi dengan evaluasi berkala dan peningkatan kualitas produk. Standar kemasan, konsistensi mutu, dan strategi branding perlu ditingkatkan agar UMKM tidak tertinggal dalam arus perubahan. Hal ini akan berdampak langsung pada peningkatan omzet dan daya saing produk.
Selain melalui UMKM Center, pemerintah juga memperluas kolaborasi dengan perguruan tinggi, sektor perbankan, dan mitra strategis lainnya. Pendekatan ini memperkuat ekosistem UMKM, dari akses permodalan hingga inovasi produk. Keberadaan identitas sejarah dan budaya Solo juga harus terus dipertahankan sebagai pembeda, menjadikan produk UMKM kaya akan karakter dan bukan sekadar komoditas.
Integrasi antara pelaku UMKM dengan pengusaha skala lebih besar menjadi langkah penting dalam menciptakan rantai nilai yang saling menguatkan. Jika semua elemen ini mampu diorkestrasi secara konsisten dan berkelanjutan, dalam lima tahun ke depan, UMKM Solo diharapkan bukan hanya menjadi penopang ekonomi daerah, tetapi juga fondasi ketahanan ekonomi yang tangguh dan berjangka panjang.
Secara keseluruhan, UMKM bukanlah sektor pinggiran. Mereka adalah jantung yang memompa kehidupan ekonomi Kota Solo dan perlu dijaga, dirawat, serta diperkuat untuk kesejahteraan bersama.