Suara News - Jayapura, Jubi – Perdana Menteri (PM) Kepulauan Solomon dan Papua Nugini mengadakan pembicaraan di Port Moresby, Jumat(26/6/2026). Kedua pihak menandatangani Perjanjian Kerangka Kerja tentang kerja sama pembangunan dan ekonomi.
Ini adalah kunjungan resmi pertama Matthew Wale ke negara tetangga PNG sejak ia menjadi perdana menteri Kepulauan Solomon bulan lalu.
James Marape, mengatakan bahwa kedua negara memiliki banyak hubungan bisnis, tetapi ia ingin melihat hubungan tersebut meningkat.
“Kami juga sepakat untuk mempertimbangkan konsep perdagangan bebas yang secara khusus dirancang antara Kepulauan Solomon dan PNG, dan diperluas ke Vanuatu dan Fiji, dan mungkin ke negara-negara Kepulauan Pasifik lainnya,” katanya sebagaimana dikutip Jubi dari laman, RNZ Pasifik, Sabtu (27/6/2026)
Marape mencatat bahwa Wale telah mengemukakan gagasan tentang perjanjian keamanan regional dengan Australia, seperti yang muncul sejak kunjungan pemimpin baru Kepulauan Solomon ke Canberra bulan ini.
“Bersama-sama kita lebih kuat. Lautan kita memiliki kekayaan yang melimpah, tanah kita memiliki kekayaan yang melimpah,” kata Marape merujuk pada dua negara Melanesia tersebut.
“Saya ingin berterima kasih karena telah mengundang perusahaan-perusahaan PNG untuk meneliti kegiatan pertambangan di Kepulauan Solomon. Bersama-sama kita bisa melakukan banyak hal,” katanya kepada Wale.
Marape mengatakan kedua negara memiliki banyak hal untuk dipelajari satu sama lain.
Perdana Menteri Kepulauan Solomon juga akan mengangkat agenda reformasi pemerintahannya di sektor pertambangan. Pembicaraan lebih lanjut akan fokus pada kerja sama kuota bahan bakar.
“Mengenai masalah regional, Perdana Menteri Wale, dalam kapasitasnya sebagai ketua Forum Kepulauan Pasifik, juga akan berdiskusi dengan mitranya dari PNG mengenai pentingnya memperkuat pengaturan regional dan respons kolektif terhadap tantangan bersama,” kata Kantor Perdana Menteri dan Kabinet Kepulauan Solomon.
Ini adalah perjalanan resmi ketiga Wale sejak berkuasa sejak Mei lalu . Wale telah mengunjungi Australia dan Selandia Baru awal Juni ini sebagai bagian dari upayanya untuk “menata ulang” hubungan diplomatik tradisional Kepulauan Solomon.
Pemimpin Kepulauan Solomon telah kembali ke Honiara pada Jumat (26/6/2026) malam. (*)