Rehabilitasi Mangrove di Sumut Melibatkan Suara Warga Pesisir
Suara Warga

Rehabilitasi Mangrove di Sumut Melibatkan Suara Warga Pesisir

Suara News - Rehabilitasi mangrove di Sumatera Utara melibatkan partisipasi masyarakat pesisir sebagai langkah strategis untuk melindungi ekosistem dan sumber penghidupan. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) yang diselenggarakan oleh Yayasan SPEAK Indonesia dan Provincial Project Implementation Unit (PPIU) Sumatera Utara.

Awal Kejadian

Masyarakat pesisir menyadari pentingnya hutan mangrove sebagai pelindung dari abrasi dan sumber kehidupan bagi nelayan. Dalam rangka meningkatkan kesadaran ini, tim riset melakukan pemetaan awal yang melibatkan masyarakat, akademisi, pemerintah, dan sektor swasta.

Perkembangan

Manager PPIU Sumatera Utara, Aditya Wahyu Putra, menekankan bahwa alih fungsi lahan menjadi tantangan utama dalam rehabilitasi mangrove. Ia menyatakan bahwa rehabilitasi tidak hanya bergantung pada penanaman, tetapi juga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak untuk pemulihan yang bertahap. Di Desa Pasar Rawa, Ketua Kelompok Tani Penghijauan Maju Bersama, Kasto Wahyudi, mengungkapkan bahwa mangrove berperan penting dalam melindungi tambak dan mendukung hasil tangkapan nelayan. Generasi muda juga turut berkontribusi dengan menanam 7.200 bibit mangrove, seperti yang disampaikan oleh Ketua Kelompok Tani Rezeki, Silfia Citra Pohan.

Kondisi Terakhir

Riset ini juga melibatkan akademisi dan dunia usaha untuk mengembangkan pendekatan berbasis data dalam pengelolaan mangrove. Melalui diskusi, tim berupaya memetakan persepsi masyarakat dan menentukan cara komunikasi yang efektif. Program M4CR yang berlangsung di beberapa provinsi ini menargetkan rehabilitasi mangrove seluas 41 ribu hektare hingga 2027, dengan dukungan dari Kementerian Kehutanan dan World Bank. Diharapkan, program ini akan meningkatkan ketahanan sosial, ekonomi, dan lingkungan masyarakat pesisir.

You can share this post!