Suara Tiang Listrik di Cengkareng: Penanda Keamanan Malam Hari
Suara Warga

Suara Tiang Listrik di Cengkareng: Penanda Keamanan Malam Hari

Di tengah malam yang sunyi, suara pukulan dari tiang listrik menjadi penanda keamanan bagi warga di permukiman Cengkareng, Jakarta Barat. Bunyi ini menjadi rutinitas yang terdengar hampir setiap dini hari, memberikan rasa aman bagi masyarakat yang terjaga.

Menurut Ketua RT 011, Wagino (60), suara pukulan ini dimulai sekitar pukul 01.00 WIB dan dilanjutkan dengan pukulan kedua pada pukul 02.00 WIB. Menjelang waktu Subuh, sekitar pukul 04.00 WIB, suara tiang listrik kembali dipukul sebanyak empat kali. Pola ini seolah menjadi isyarat akan 'jam malam' versi kampung.

“Memukul tiang itu dari jam satu. Itu maknanya untuk mengetahui waktu dia keliling wilayah,” ungkap Wagino. Ia menjelaskan bahwa tradisi ini bukan hanya kebiasaan, tetapi juga sebagai tanda bahwa ronda masih berlangsung. Bagi warga yang terjaga, suara tersebut memberikan jaminan bahwa lingkungan mereka aman.

Tradisi memukul tiang listrik ini telah berlangsung puluhan tahun. Wagino, yang telah tinggal di Cengkareng sejak 1993, mengungkapkan bahwa suara tiang listrik sudah menjadi bagian dari malam hari di lingkungan tersebut. Meski kini beberapa hansip menggunakan sepeda, bunyi bel sepeda tetap membawa makna yang sama.

Di tingkat RT, keamanan dikelola oleh RW, dengan tiga hansip yang bergantian berjaga. Kasus kemalingan di daerah tersebut tergolong jarang terjadi. Wagino menuturkan bahwa pernah terjadi insiden di mana hansip memergoki sekelompok anak mencoba memanjat pagar rumah, dan dengan segera memukul tiang listrik lebih keras untuk membangunkan warga.

“Minimal dibekali alat komunikasi seperti HT. Kalau ada kejadian mendesak, bisa langsung koordinasi,” harap Wagino, menyampaikan perlunya dukungan dari pemerintah untuk menunjang tugas hansip.

Bagi warga, suara pukulan tiang listrik tersebut menghadirkan rasa aman. Nur (58), yang telah tinggal di lingkungan tersebut hampir 30 tahun, merasa bahwa suara itu menjadi tanda bahwa ronda masih berlangsung. Dia mengakui meskipun banyak lingkungan yang telah dipasangi CCTV, bunyi pukulan tiang listrik tetap memiliki efek yang berbeda.

“Kalau orang mau niat jahat, jadi mikir dua kali. Karena tahu ada patroli hansip,” ujarnya. Meskipun awalnya suara itu sempat mengganggu tidurnya, lama-kelamaan, Nur merasa bahwa bunyi tersebut memberikan ketenangan. “Kalau malam sunyi banget malah was-was. Begitu dengar bunyi itu, rasanya aman,” tambahnya.

Nur menyebutnya sebagai 'alarm versi kampung', dan menekankan bahwa keamanan lingkungan adalah tanggung jawab bersama yang perlu dipertahankan. “Kalau kebiasaan itu hilang, bisa jadi warga nanti makin cuek sama sekitar,” pungkasnya.

You can share this post!