Tantangan Pengelolaan Sampah di Bantaran Sungai Cikapundung: Suara Warga Kampung Sukaresmi
Suara Warga

Tantangan Pengelolaan Sampah di Bantaran Sungai Cikapundung: Suara Warga Kampung Sukaresmi

Masalah sampah di Kampung Sukaresmi, Dago Atas, menjadi isu yang terus berlanjut dan belum terpecahkan. Meskipun terletak di hulu Sungai Cikapundung, yang seharusnya lebih terlindungi, tumpukan sampah rumah tangga dan limbah warga masih terlihat di sekitar aliran sungai.

Sampah-sampah ini tidak hanya berasal dari penduduk setempat, tetapi juga terbawa arus dari wilayah yang lebih tinggi. Akibatnya, sungai mengalami pendangkalan dan menimbulkan bau tidak sedap, terutama saat musim kemarau. Ibu Teti, seorang warga yang telah tinggal di kawasan ini sejak tahun 2001, mengungkapkan, "Yang kebawa arus itu ada kayu, bambu, rumput, juga kotoran sapi dari area peternakan atas. Bahkan kadang ada orang yang lewat jembatan buang sampah besar, ada yang satu karung."

Upaya Pengelolaan yang Belum Optimal

Warga Kampung Sukaresmi tidak sepenuhnya tanpa sistem pengelolaan sampah. Petugas kebersihan dari kampung sebelah datang sekitar tiga kali seminggu untuk mengangkut sampah. Namun, sistem ini belum mencakup seluruh rumah warga. Ibu Teti menjelaskan, "Petugas yang rutin datang biasanya seminggu tiga kali, dari kampung sebelah yang kebetulan dekat."

Sayangnya, sebagian warga masih memilih untuk membuang sampah langsung ke sungai, bahkan dilakukan pada waktu subuh agar tidak terlihat orang lain. Situasi ini mencerminkan bahwa masalah sampah bukan hanya berkaitan dengan fasilitas, tetapi juga menyangkut budaya kebersihan di masyarakat.

Kondisi Lingkungan yang Stagnan

Bagi warga yang telah lama tinggal di sana, seperti Ibu Teti, kondisi lingkungan di bantaran Cikapundung tidak banyak berubah selama lebih dari dua dekade. Ia menyatakan, "Sejak tahun 2001 sampai sekarang sama saja. Tidak memburuk karena kita di hulu, tapi tetap kasihan orang di hilir sana."

Menariknya, saat musim hujan, sungai terlihat lebih bersih karena arus deras membawa sampah pergi. Sebaliknya, pada musim kemarau, sampah-sampah tersangkut di bebatuan, menciptakan bau yang kurang sedap.

Kendala Kesadaran dan Pengawasan

Masalah pengelolaan sampah di Kampung Sukaresmi mencerminkan kurangnya kesadaran dan pengawasan yang memadai. Meskipun ada upaya pengelolaan, tantangan budaya dan kebiasaan warga menjadi faktor yang sulit diubah. Hal ini menuntut perhatian lebih dari pihak berwenang untuk menangani isu sampah di kawasan ini secara menyeluruh.

You can share this post!