Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan prajurit TNI yang dikerahkan dalam Misi Kemanusiaan TNI di Gaza bersama ISF tidak akan melakukan operasi militer, melainkan fokus pada bantuan kemanusiaan dan perlindungan sipil.
11:01:31
Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan bahwa prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang akan bertugas dalam misi perdamaian bersama Pasukan Stabilisasi Internasional (International Stabilization Force/ISF) di Gaza, Palestina, tidak akan melakukan operasi militer. Pernyataan ini disampaikan Sugiono saat memberikan keterangan pers di Washington DC, Jumat (20/2) malam waktu setempat.
Sugiono menjelaskan bahwa mandat pelaksanaan dari ISF memungkinkan negara peserta, termasuk Indonesia sebagai Wakil Komandan ISF, untuk menyampaikan batasan pengerahan pasukan atau national caveat. Indonesia telah menyampaikan secara tegas bahwa pasukannya tidak akan terlibat dalam operasi militer.
Fokus utama pengerahan ribuan pasukan Indonesia ini adalah menjalankan tugas kemanusiaan, melindungi masyarakat sipil di kedua belah pihak, serta terlibat dalam upaya-upaya kemanusiaan yang ada di sana. Prajurit TNI hanya akan melakukan tindakan mempertahankan diri apabila diserang, sesuai dengan aturan keterlibatan (rule of engagement) yang berlaku.
Mandat Khusus Misi Kemanusiaan TNI di Gaza
Indonesia telah secara jelas menyampaikan national caveat kepada ISF, yang berarti adanya batasan tegas dalam partisipasi prajurit TNI di Gaza. Sugiono menekankan bahwa pasukan Indonesia tidak akan melakukan operasi militer, pelucutan senjata, maupun kegiatan demiliterisasi.
Hal ini menegaskan komitmen Indonesia terhadap misi kemanusiaan dan perdamaian, bukan intervensi militer. Mandat ini memastikan bahwa kehadiran TNI di Gaza semata-mata untuk tujuan non-tempur, berfokus pada stabilitas dan bantuan kepada warga sipil.
Prajurit TNI akan berfokus pada perlindungan masyarakat sipil, penyaluran bantuan kemanusiaan, dan menjaga perdamaian. Apabila terjadi serangan, mereka memiliki hak untuk mempertahankan diri sesuai dengan standar internasional.
ADVERTISEMENT
Peran Strategis Indonesia dalam Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF)
Dalam struktur ISF, Amerika Serikat (AS) berperan sebagai force commander, didukung oleh tiga deputy commander, salah satunya adalah Indonesia di bidang operasi. Penunjukan Indonesia sebagai Wakil Komandan ISF bidang Operasi merupakan sebuah penghormatan dan penghargaan atas reputasi prajurit Indonesia dalam berbagai misi perdamaian di dunia.
Sugiono juga menambahkan bahwa Indonesia akan mengirimkan kontingen prajurit terbanyak ke Gaza, dengan jumlah 8.000 personel, bahkan bisa lebih jika dibutuhkan. Jumlah ini mencerminkan kepercayaan internasional terhadap kemampuan dan profesionalisme TNI dalam menjaga perdamaian.
Kontribusi signifikan ini juga menggarisbawahi peran aktif Indonesia dalam diplomasi global dan upaya menjaga stabilitas regional. Indonesia telah lama dikenal sebagai salah satu negara penyumbang pasukan perdamaian terbesar di dunia.
ADVERTISEMENT
Komitmen Indonesia untuk Perdamaian di Gaza
Komitmen Indonesia terhadap perdamaian di Gaza kembali ditegaskan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan perdana Board of Peace di Donald J. Trump Institute of Peace, Washington DC, Kamis (19/2) pagi waktu setempat. Presiden Prabowo memuji capaian gencatan senjata di Gaza dan menegaskan kesiapan Indonesia mengirim 8.000 prajurit TNI.
Presiden Prabowo menyatakan bahwa jumlah pasukan dapat ditingkatkan jika diperlukan, menunjukkan keseriusan Indonesia dalam upaya stabilisasi pasca-konflik. Ini adalah bagian dari dukungan Indonesia untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi perdamaian berkelanjutan.
Sementara itu, Komandan ISF Mayor Jenderal Jasper Jeffers, dari Angkatan Bersenjata AS, menyatakan bahwa proyeksi ke depan ISF akan melibatkan 20.000 tentara dan 12.000 polisi. Pasukan ini akan bertugas memulihkan situasi pascaperang di Gaza, dengan Rafah di wilayah selatan Gaza sebagai tujuan pertama.
Sumber: AntaraNews
ADVERTISEMENT