Suara News - PIKIRAN RAKYAT -
Dunia kembali menyaksikan sebuah lembaran hitam yang sangat kelam dalam sejarah modern ketika rudal-rudal presisi menghantam sebuah sekolah dasar di Minab, Iran. Tragedi yang menewaskan sedikitnya 108 nyawa tak berdosa, yang mayoritas adalah anak-anak perempuan, bukan sekadar statistik korban perang, tetapi merupakan bukti nyata kegagalan nurani manusia.
Di tengah gemuruh Operation Epic Fury yang dilancarkan oleh kekuatan militer Amerika Serikat dan Israel, dunia seolah dipaksa untuk menerima bahwa nyawa anak-anak hanyalah sebuah kerusakan penyerta yang tidak terhindarkan.
Namun, pembenaran atas nama keamanan nasional atau stabilisasi kawasan tidak akan pernah bisa mencuci darah yang tumpah di atas buku-buku sekolah dan seragam yang kini terkoyak. Serangan ini telah menghancurkan muruah kemanusiaan universal yang selama ini kita agungkan dalam piagam-piagam internasional yang megah namun kini terasa sangat hampa.
Militer sering kali berdalih bahwa serangan mereka selalu ditujukan pada target-target strategis atau infrastruktur pertahanan lawan yang dianggap sangat mengancam. Tetapi, ketika sebuah bangunan pendidikan yang penuh dengan keceriaan anak-anak berubah menjadi kuburan massal dalam sekejap, dalih akurasi teknologi tersebut menjadi sangat diragukan kebenarannya.
Apakah satelit-satelit canggih dan intelijen militer yang bernilai miliaran dolar tidak mampu membedakan antara pangkalan rudal dan ruang kelas tempat masa depan bangsa dirajut? Pertanyaan ini menuntut jawaban yang jujur dari para pengambil kebijakan di Washington dan Tel Aviv yang saat ini sedang merayakan keberhasilan operasi udara mereka.
Namun, kenyataan pahit di lapangan menunjukkan bahwa teknologi pembunuh yang paling mutakhir sekalipun tidak memiliki kemampuan untuk menilai nilai intrinsik dari sebuah nyawa manusia yang tidak berdosa.
Kematian 108 jiwa di Minab seharusnya menjadi titik balik bagi komunitas internasional untuk segera menghentikan kegilaan militer yang terus berlangsung di Timur Tengah.
Kita tidak bisa terus berdiri diam sebagai penonton yang hanya mengirimkan simpati lewat media sosial tanpa melakukan tindakan diplomasi yang konkret dan tegas. Pengabaian terhadap keselamatan warga sipil dalam konflik bersenjata adalah sebuah kejahatan perang yang tidak boleh dibiarkan berlalu tanpa adanya pertanggungjawaban hukum yang jelas.
Namun, kenyataan politik sering kali menunjukkan bahwa hukum internasional hanya berlaku bagi pihak yang lemah, sementara pihak yang kuat dapat berlindung di balik hak veto dan pengaruh ekonomi mereka. Ketidakadilan sistemik inilah yang kemudian melahirkan siklus dendam yang tidak akan pernah berhenti menghantui peradaban manusia hingga generasi-generasi mendatang yang akan menanggung bebannya.