Trump Paparkan Empat Misi Utama AS dalam Perang Melawan Iran
Suara Utama

Trump Paparkan Empat Misi Utama AS dalam Perang Melawan Iran

Suara News - TRIBUN-VIDEO.COM - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengungkapkan tujuan perang di Iran.

Operasi militer yang dinamai Operation Epic Fury (Operasi Amukan Epik) ini berlangsung sejak 28 Februari 2026.

Hingga kini, operasi militer tersebut masih terus terjadi dan bahkan meluas hingga Lebanon.

Dalam pidato di upacara penganugerahan Medal of Honor, Trump memberikan pembaruan mengenai eskalasi militer AS di Iran.

Trump menegaskan bahwa militer AS sedang melakukan operasi tempur besar-besaran untuk mengeliminasi ancaman yang ia klaim berasal dari rezim Iran.

Ia menyebut tindakan ini sebagai langkah penting setelah Iran mengabaikan peringatan pasca operasi sebelumnya, "Operation Midnight Hammer", yang menargetkan fasilitas nuklir negara tersebut.

"Tujuan kami jelas," tegas Trump, Senin, (2/3/2025), mengutip YouTube Euronews.

"Kami sedang menghancurkan kemampuan rudal Iran secara terus-menerus, setiap jam, termasuk kapasitas mereka untuk memproduksi rudal baru," lanjutnya.

Dalam pernyataan resminya, Trump merinci empat tujuan utama dari intervensi militer yang sedang berlangsung.

Pertama, menghancurkan gudang senjata dan pabrik pembuatan rudal balistik Iran yang dianggap mengancam pangkalan AS dan daratan Amerika.

Trump juga mengklaim AS telah menenggelamkan sedikitnya 10 kapal perang Iran ke dasar laut.

Lalu, AS, kata Trump, bersikeras untuk menghentikan program nuklir Iran selamanya.

Ia memastikan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.

Trump kembali mengkritik kesepakatan nuklir era Obama (JCPOA) yang ia sebut sebagai "dokumen berbahaya".

Terakhir, kata Trump, menghentikan kemampuan Iran untuk mendanai dan mengarahkan kelompok proksi di luar perbatasan mereka.

Trump mengaitkan operasi militer ini dengan dendam sejarah selama 47 tahun, di mana ia menuduh rezim Iran bertanggung jawab atas kematian dan luka-luka yang dialami tentara Amerika melalui bom pinggir jalan (IED).

Ia secara spesifik menyebut Jenderal Qasem Soleimani — yang tewas dalam serangan udara AS pada masa jabatan pertama Trump — sebagai "bapak bom pinggir jalan".

"Ini adalah kesempatan terbaik terakhir kita untuk menyerang dan melenyapkan ancaman yang tidak dapat ditoleransi dari rezim yang jahat ini," ujar Trump.

Terkait durasi perang, Trump menyatakan bahwa meskipun awalnya diproyeksikan memakan waktu empat hingga lima minggu, militer AS siap bertahan lebih lama jika diperlukan.

Ia menepis anggapan media bahwa dirinya akan "bosan" dengan konflik ini.

"Saya tidak akan bosan. Tidak ada yang membosankan tentang hal ini," katanya.

Trump menambahkan bahwa kepemimpinan militer Iran telah berhasil dilumpuhkan jauh lebih cepat dari jadwal semula.

Trump kembali memberikan ancaman terbarunya kepada Iran.

Dalam wawancaranya dengan CNN pada Senin (2/3/2026), Trump menyebut bahwa "gelombang besar" serangan militer AS masih akan datang.

You can share this post!