Filipina Reposisi Kebijakan Luar Negeri Melalui Kerja Sama Keamanan Laut Sulu
Sumber Foto: Kompasiana.com
Internasional

Filipina Reposisi Kebijakan Luar Negeri Melalui Kerja Sama Keamanan Laut Sulu

Suara News - Kawasan perbatasan laut di Asia Tenggara selalu menjadi ujian rumit bagi kedaulatan negara dan stabilitas regional. Salah satu titik paling rawan yang membutuhkan perhatian khusus adalah perairan Laut Sulu. Wilayah laut ini memisahkan Filipina Selatan dengan wilayah Malaysia Timur dan Indonesia Utara.

Selama bertahun-tahun, Laut Sulu menjadi episentrum berbagai ancaman keamanan non tradisional yang serius. Ancaman tersebut meliputi pembajakan kapal dagang, penyelundupan senjata, hingga aksi penculikan untuk tebusan oleh kelompok ekstremis bersenjata seperti Abu Sayyaf.

Menanggapi situasi kritis ini, kebijakan luar negeri Filipina mengambil langkah strategis yang pragmatis dan kolaboratif. Manila memilih untuk terlibat aktif dalam pembentukan sebuah mekanisme kerja sama sub-regional. Kerja sama tersebut dikenal sebagai Trilateral Cooperative Arrangement (TCA) bersama Indonesia dan Malaysia.

Melalui pendekatan minilateral ini, Filipina berupaya menjaga integritas wilayah domestik sekaligus mempertahankan stabilitas keamanan maritim di kawasan Asia Tenggara.

Reposisi Strategis Kebijakan Luar Negeri Filipina

Kebijakan luar negeri Filipina secara tradisional berpusat pada aliansi pertahanan formal dengan Amerika Serikat melalui Mutual Defense Treaty. Namun, ketika dihadapkan pada ancaman asimetris di halaman belakang rumahnya sendiri, yaitu Laut Sulu, Manila menyadari keterbatasan aliansi tradisional tersebut. Ancaman lintas batas dari kelompok gerilyawan dan perompak membutuhkan respons cepat yang bersifat lokal dan terkoordinasi erat dengan negara tetangga terdekat.

Oleh karena itu, keterlibatan Filipina dalam TCA mencerminkan bentuk reposisi strategis yang penting. Filipina mengadopsi pendekatan minilateralism, sebuah model kerja sama pragmatis yang melibatkan kelompok negara dalam jumlah kecil untuk menyelesaikan isu-isu spesifik secara efektif.

Bagi Filipina, kerja sama ini menjadi sangat penting karena sebagian besar operasi kriminalitas asimetris tersebut berakar di wilayah daratan Filipina Selatan yang sulit dijangkau oleh aparat penegak hukum domestik secara sendirian.

Mengikis Ego Kedaulatan Demi Keamanan Bersama

Salah satu tantangan terbesar bagi politik luar negeri Filipina di kawasan ini adalah sentimen kedaulatan wilayah, terutama terkait isu historis klaim wilayah Sabah dengan Malaysia. Meskipun demikian, urgensi keamanan di Laut Sulu memaksa Filipina untuk mengesampingkan ego politik demi kepentingan yang lebih besar. Melalui TCA, ketiga negara menyepakati pembentukan kerangka kerja operasional yang dikenal dengan nama INDOMALPHI.

Kerangka kerja operasional ini ditopang oleh tiga pilar utama yang disepakati oleh Filipina: