Keluhan Petani Jagung Merangin Meningkat, Bulog Dinilai Kurang Sosialisasi
Suara News - - Publisher
- 07:34 WIB
A A A
SUARA UTAMA,Merangin– Gelombang keluhan petani jagung di Kabupaten Merangin terus menguat. Hasil panen program ketahanan pangan desa yang sejak awal digadang-gadang akan diserap Bulog, kini justru banyak ditolak dengan berbagai alasan.
Di lapangan, sejumlah petani dan kepala desa di wilayah Tabir Ulu mengaku kecewa karena jagung yang sudah dipanen tidak kunjung diterima pihak Bulog Merangin. Padahal, penanaman jagung tersebut dilakukan melalui program pemerintah dengan semangat besar untuk meningkatkan ketahanan pangan sekaligus kesejahteraan masyarakat desa.
Namun kenyataannya, saat panen tiba, para petani justru kebingungan. Salah satu petani mengeluhkan kondisi tersebut kepada media ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Jagung kito tadi sudah dites kadar airnyo, kadar air udah 10 persen. Kini alasannyo jagung berjamur lagi katonyo bg. Kalau dak bisa dijual ke Bulog, mau dijual kemano lagi ni jagung yo bg?” keluh petani.
BACA JUGA : Bupati Berau Hj. Sri Juniarsih Mas, M.Pd. Melakukan Inspeksi Mendadak Ke Bangunan Rumah Sakit Baru, RSUD Tanjung Redeb
Keluhan ini semakin tajam setelah muncul pernyataan dari salah seorang pegawai kecamatan yang menyebut bahwa selama ini Bulog diduga tidak pernah turun langsung memberikan sosialisasi atau pemberitahuan kepada petani terkait standar kadar jagung yang bisa diterima.
Menurutnya, petani minim pengetahuan soal ketentuan teknis seperti kadar air, kualitas, hingga standar penerimaan Bulog.
“Bulog ini tidak pernah turun ke petani-petani. Harusnya mereka jelaskan kalau kadarnya seperti ini, harus begini, tidak begitu. Selama ini tidak pernah turun. Giliran petani bawa hasil pertaniannya ditolak-tolak. Bulog bilang jamur, tapi sebelumnya tidak ada dijelaskan ke petani harusnya seperti apa,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menambah kuat dugaan bahwa persoalan ini bukan semata kualitas panen, tetapi juga lemahnya komunikasi dan pembinaan dari pihak Bulog kepada masyarakat.
BACA JUGA : Hadiri Rembuk Otonomi Daerah, Wawako Pangkalpinang Sampaikan Aspirasi Terkait Kawasan Industri dan Status Wilayah
Akibat penolakan yang berulang, kini banyak petani terpaksa menjual jagung mereka kepada tengkulak. Ironisnya, harga yang diberikan tengkulak justru lebih tinggi dibanding harga Bulog.
Hal ini memunculkan pertanyaan besar: jika Bulog tidak aktif hadir di lapangan dan hanya menolak saat panen datang, lalu siapa yang sebenarnya diuntungkan?
Pegawai kecamatan tersebut menegaskan bahwa banyak warga dari sejumlah desa akhirnya memilih jalur tengkulak karena tidak ada kepastian dari Bulog.
“Pada intinya banyak warga dari sejumlah desa jagungnya ditolak, alhasil lari ke tengkulak. Dan untuk diketahui, harga tengkulak juga lebih tinggi daripada Bulog. Ini yang dikeluhkan kepala desa,” lanjutnya.
Sejumlah kepala desa bahkan menyatakan, jika kondisi seperti ini terus terjadi, program pertanian jagung ketahanan pangan bisa dihentikan ke depannya. Sebab, petani tidak mungkin terus menanam jika hasil panen tidak memiliki pasar yang jelas.
BACA JUGA : FKPPI Probolinggo Raya Support Progam TNI Manunggal Membangun Desa, Siap Terjun Kelapangan Saat di Butuhkan
“Kalau seperti ini, lebih baik hentikan saja tanam jagung. Karena tidak ada tempat besar untuk menjual,” ungkap warga di lapangan.
Masyarakat berharap Bulog Merangin tidak hanya hadir di meja penerimaan, tetapi juga aktif turun ke lapangan melakukan sosialisasi, pembinaan, serta memberikan standar yang jelas sejak awal agar petani tidak bingung.
Jika petani terus dibiarkan berjalan tanpa arahan, maka program ketahanan pangan yang seharusnya menjadi solusi justru berubah menjadi beban dan kekecewaan.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Bulog Merangin belum memberikan keterangan resmi kepada Media ini terkait keluhan petani tersebut. Meski demikian, media ini tetap membuka ruang klarifikasi dan hak jawab dari pihak terkait.
Penulis : Ady Lubis
Sumber Berita: Wartawan Suara Utama
Berita Terkait
Diduga Abaikan SOP, Oknum Kepala SPPG Disorot: Relawan Mengeluh, Sistem Kerja Dinilai Semrawut.
Mencari Keadilan di Tengah Kemakmuran yang Semu
Menakar Etika Demokrasi Dan Keadilan Pemilu Dalam Bayang Politik Kepentingan
Kesultanan Sambaliung dan Organisasi Sabang Merah Borneo DPD Berau Pesisir, Mosi tidak percaya dan kecaman keras terhadap PT Tridaya Hutan Lestari (PT THL).
Pelaksanaan Kurban Idul adha 1447 H di Teluk Bayur Berjalan Khidmat, Warga Antusias Gotong Royong.
Molor..!! Janji 20 Mei 2026. RSUD tanjung redep Berau Masih Kosong, Bupati Belum Tentukan Jadwal Baru
Badan Usaha Milik Daerah(BUMD) Masuk Rapor Merah KLHK, Ada Apa dengan PT IPB?”
Isi Kekosongan Jabatan, Wali Kota Saparudin Resmi Lantik Budiyanto sebagai Pj Sekda Pangkalpinang
Berita ini 78 kali dibaca
Tag : Bulog Bupati Merangin
Berita Terbaru
Berita Utama
Diduga Abaikan SOP, Oknum Kepala SPPG Disorot: Relawan Mengeluh, Sistem Kerja Dinilai Semrawut.
Liputan Khusus
Api Berkobar di RSUD Syekh Yusuf Gowa, Pasien Berlarian Selamatkan Diri
Hukum
Pelaku Pemerkosaan dan Pembunuhan Siswi SD di Tallo Ditangkap, Polisi Ungkap Kronologi Tragis Korban
Hukum
Unit Jatanras Polres Maros Ringkus Komplotan Geng Motor Pelaku Penyerangan Busur, 10 Remaja Diamankan
Motivasi
Di Hari Bahagia ke-56, Sekretaris JWI Bulukumba Doakan Kesuksesan Ketua DPW JWI Sulsel
Berita Utama
Korban Angkat Bicara: “Kalau Merasa Benar, Buktikan di Pengadilan, Bukan Bermain Opini di Media




