Perjanjian Jakarta Perkuat Kerja Sama Keamanan Maritim Australia-Indonesia
Internasional

Perjanjian Jakarta Perkuat Kerja Sama Keamanan Maritim Australia-Indonesia

Suara News - Australia dan Indonesia, yang didorong oleh perjanjian baru, mentransformasikan ikatan maritim mereka dari koordinasi perbatasan menjadi model untuk keamanan multilateral regional. Dengan menyelaraskan praktik operasional dan protokol berbagi informasi, kedua negara bertetangga ini mengatasi ancaman bersama melalui pendekatan yang terhubung dalam jaringan yang mendukung tatanan maritim berbasis aturan.

Perjanjian Keamanan Bersama, yang juga dikenal sebagai Perjanjian Jakarta, mewajibkan kedua negara untuk berkonsultasi dalam menanggapi ancaman keamanan regional, pengaturan yang kini mencakup penempatan seorang perwira militer senior Indonesia di dalam Pasukan Pertahanan Australia (Australian Defence Force – ADF). Pakta Februari 2026 ini juga mendukung pengembangan fasilitas pelatihan pertahanan gabungan di Indonesia dan memperluas latihan bilateral seperti Keris Woomera untuk memperkuat integrasi operasional di antara kedua pasukan.

Perjanjian Jakarta berlandaskan pada Perjanjian Kerja Sama Pertahanan (Defense Cooperation Agreement – DCA) tahun 2024 serta pembaruan nota kesepahaman di bidang keamanan maritim tahun 2025, yang keduanya merupakan bagian dari kerangka kerja Kemitraan Strategis Komprehensif yang telah disepakati kedua negara sejak tahun 2018. DCA menetapkan kerangka kerja hukum bagi pasukan masing-masing negara untuk beroperasi di wilayah satu sama lain, sementara itu pembaruan keamanan maritim memperkuat kerja sama di antara Pasukan Perbatasan Australia dan Badan Keamanan Maritim Indonesia untuk menanggulangi ancaman lintas batas seperti penangkapan ikan ilegal dan perdagangan manusia.

Perluasan ikatan itu telah meningkatkan operasi maritim gabungan, termasuk Jawline Arafura dan Gannet, serta memperbaiki komunikasi untuk kesadaran ranah maritim regional. Operasi-operasi itu “membakukan prosedur yang sangat penting di yurisdiksi perbatasan, mulai dari legalitas pengejaran lintas batas [dan] transfer bukti intelijen hingga mengatasi kesenjangan pengawasan yang disebabkan oleh kendala logistik dan bahan bakar,” ungkap Budi Riyanto, dosen hubungan internasional di Institut Komunikasi & Bisnis LSPR Indonesia, kepada FORUM.

Hubungan yang semakin dalam ini terlihat jelas dalam latihan pertahanan bilateral. Keris Woomera 2024 melibatkan 2.000 personel dari ADF dan Tentara Nasional Indonesia yang melakukan operasi amfibi dan udara kompleks dalam latihan gabungan bersama terbesar kedua negara itu. Latihan khusus seperti latihan darat Wirra Jaya dan latihan udara Elang Ausindo, keduanya dilaksanakan pada tahun 2025, memberikan pelatihan tingkat taktis yang membangun interoperabilitas medan perang.

Sementara itu, kerja sama di antara badan maritim Australia dan Indonesia telah memungkinkan keberhasilan misi pencarian dan penyelamatan bagi nelayan yang terdampar.

Budi Riyanto mengatakan Pakta Jakarta melembagakan kepercayaan yang tumbuh di antara kedua pasukan pertahanan, yang kini mengintegrasikan jaringan pengawasan, lewat menggabungkan radar dari balik cakrawala (over-the-horizon) Australia dengan armada kapal nirawak Indonesia.

Koordinasi lintas lembaga semacam itu menciptakan arsitektur keamanan yang lebih stabil, demikian menurut Dr. Marcellus Hakeng Jayawibawa, analis di Lemhannas Strategic Center Jakarta.

“Ini menunjukkan bahwa keamanan maritim modern bukan lagi hanya tentang patroli militer, tetapi juga menyangkut perlindungan sumber daya, ketahanan ekonomi, dan stabilitas sosial regional,” ungkapnya kepada FORUM. “Saya juga mengamati peningkatan kesadaran di kedua negara akan perlunya membangun kepercayaan geopolitik dan arsitektur keamanan regional yang lebih stabil.”

You can share this post!